Mesin Pemecah Biji Mete Rekayasa Lalu Wahidin akan Dipatenkan

0
Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, melihat operasional mesin pemecah biji mete karya Lalu Wahidin.(suara NTB/bul)
ads top adsamman

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE, ME dan rombongan mengunjungi rumah produksi biji mete, di Lingkungan Anshar Kelurahan Jempong Baru, Kota Mataram, setelah mengetahui mesin pemecah biji mete berhasil diciptakan.

Kepala dinas ingin memastikannya, dan menggali informasi seputar mesin hasil rekayasa Kepala Lingkungan Anshar, Lalu Wahidin. Mesin pemecah mete diketahui adalah hasil perenungan panjang Lalu Wahidin, karena semangat agar Indonesia tak kalah saing dengan Vietnam. Kepada kepala dinas, Lalu Wahidin menyampaikan ihwal, hingga tercetus ide membuat mesin pemecah biji mete yang bisa bekerja secara otomatis.

Lalu Wahidin adalah pengusaha sekaligus penyuplai besar komoditas, diantaranya jagung dan biji mete. Selama ini, jagung dan mete dikirimnya gelondongan ke eksportir di Surabaya dan Sulawesi. Lalu diekspor ke berbagai negara yang membutuhkan. Diantaranya ke Vietnam, dan India. Dalam seminggu bisa mengekspor hingga ratusan ton.

Lalu Wahidin merasa prihatin, komoditas yang diekspornya, kembali ke Indonesia sudah dalam bentuk produk jadi. Padahal, sumber bahan bakunya dari NTB, terutama biji mete. “Kenapa demikian, persoalan kita karena masih menggunakan alat-alat yang tradisional untuk mengupas biji mete. Di Indonesia belum ada alat pengupas biji mete. Ada satu perusahaan besar di Sulawesi yang punya, tapi itupun didatangkan dari Vietnam,” terangnya.

Untuk mengupas biji mete, masih dilakukan sangat tradisional. Dipecah biji perbiji. Dan melibatkan tidak sedikit orang. Akibatnya, biaya produksi tinggi. Tetapi hasil pengupasannya lambat. Dan biji inti yang dikupas banyak pecah. “Saya berpikir, kalau begini terus. Kapan bisa maju. kapan bisa memenuhi permintaan luar negeri untuk biji mete kupas. Akhirnya saya melakukan eksperimen selama setahun. Dan menghabiskan dana lebih dari Rp100 juta untuk lima kali gagal. Akhirnya sekarang ketemu, dan sudah 90 persen lebih siap bekerja otomatis,” katanya sembari memperlihatkan kerja mesin pengupas yang sudah diperkenalkannya kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno ini.

Kini mesin yang dibuat Lalu Wahidin bisa berproduksi mengupas biji mete dengan perbandingan hasil, satu mesin sama kapasitas produksinya dengan 100 tenaga kerja pengupas. Dan hasil kupasannya selain cepat, biji tidak pecah. Sehingga lebih memiliki nilai tawar untuk ekspor. “Kalau tidak pecah biji intinya, berani kita adu untuk permintaan ekspor. Walaupun dari kualitas dan ukuran, biji mete kita kalah dibandingkan Vietnam. Tapi kita unggul dari citarasanya. Makanya dicari terus biji mete kita,” jelas Lalu Wahidin.

Untuk menandingi dominasi Vietnam, Lalu Wahidin berharap, mesin hasil rekayasanya ini bisa diperbanyak. Dibagikan kepada petani. Sehingga NTB sebagai penghasil biji mete tidak lagi menjual biji mete dalam bentuk gelondongan. Melainkan ekspor dalam bentuk biji mete kupas, bila memungkinkan, yang sudah dalam bentuk produk turunan biji mete.

“Dengan begitu, kita bisa mandiri. Dan nilai lebihnya bisa ngendap di daerah. Tidak lagi kita jual dalam bentuk gelondongan dengan harga rendah. Tetapi sudah dalam bentuk produk jadi dan harganya tinggi,” demikian Lalu Wahidin. Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti sangat terkesan dengan berhasilnya diciptakan mesin pengupas biji mete ini. Ia juga memastikan, mesin ini pertama kali ada di NTB, dan tidak menutup kemungkinan di Indonesia.

Oleh karena itu, Nuryanti mengatakan, akan memfasilitasi hak cipta mesin pemecah biji mete ini agar tidak ditiru orang luar. Ia juga sangat berharap, mesin ini bisa diperbanyak. Dan dibagi-bagi kepada kelompok tani. Sehingga NTB bisa menjadi penghasil produk turunan biji mete secara mandiri.

“Pak Gubernur (Dr. H. Zulkieflimansyah) juga ndak mau, komoditas kita dikirim ke luar terus dalam bentuk gelondongan. Harus dilakukan industrialisasi di daerah. semoga mesin ini ke depan bisa menciptakan kemandirian, lapangan pekerjaan yang lebih luas untuk menghasilkan produk turunan dari biji mete. Harus jadi eksportir biji mete dalam bentuk jadilah,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi ide-ide besar menciptakan teknologi tepat guna untuk menguatkan program unggulan industrialisasi di Provinsi NTB. (bul)