Siap Saingi Vietnam, Lalu Wahidin Ciptakan Mesin Otomatis Pengupas Biji Mete

0
Lalu Wahidin dengan mesin pemecah biji mete yang berhasil direkayasa. Mesin ini siap menyaingi mesin pemecah mete produksi Vietnam. (Ekbis NTB/bul)

PUTRA Nusa Tenggara Barat berhasil menciptakan mesin teknologi pengupas biji mete. Hasil karya ini bahkan diisebut sebut bakal menjadi pesaing mesin yang selama ini hanya diproduksi di Vietnam.

Adalah Lalu Wahidin yang sudah berhasil melakukan merekayasa mesin pengupas biji mete ini. Selama ini pengupasan biji mete dilakukan secara manual. Akibatnya, permintaan luar negeri untuk biji mete kupas tak bisa terpenuhi.

“Kalau sekarang kita siap ekspor biji mete kupas. Bisa kita bersaing dengan Vietnam,” kata pengusaha komoditas ini.

Lalu Wahidin sudah puluhan tahun menjadi pengusaha komoditas, sebagai eksportir. Salah satunya ekspor biji mete, selain jagung. Negara tujuan ekspor adalah Vietnam dan India. Per tiga bulan biasanya mengekspor ribuan ton biji mete gelondongan.

Kepala Lingkungan Anshor, Kelurahan Jempong Baru ini sudah lama merasa “jengkel” dengan ketertinggalan. Hanya sekedar mesin pengupas biji mete saja, harus mendatangkan mesin dari Vietnam. Akibatnya, potensi mete yang sangat besar, khususnya di Provinsi NTB tidak bisa terkelola dengan baik.

“Belum ada di dalam negeri. Hanya satu perusahaan mete yang punya mesin pengupas. Tapi itupun didatangkan dari Vietnam,” ujarnya.

Di Indonesia, pengupasan biji mete umumnya dilakukan secara sederhana. Proses pengupasannya juga lama. Karena pengupasan biji mete dilakukan satu per satu. “Bagaimana kita bisa memenuhi permintaan luar negeri kalau terus terusan menggunakan alat-alat sederhana,” ujarnya.

Akhirnya tercetuslah ide memodifikasi alat alat dan besi bekas untuk bereksperimen. Enam bulan mesin pemecah biji mete ini dikonsep Lalu Wahidin dan enam bulan proses pembuatan. Menggunakan bahan bahan rongsokan seperti  gear sepeda motor, besi, as, rantai, gear box, pir, kolahar, mata pisau, termasuk bahan kayu, dan dinamo sebagai mesin penggerak.

Lalu Wahidin merogoh dana sebesar Rp70 juta untuk merekayasa mesin pemecah biji mete yang sekarang sudah dioperasikan ini. Temuan mesin pemecah biji mete ini diklaim berhasil mengefisiensi tenaga kerja dan biaya produksi.

Jika pemecah biji mete dengan cara tradisional membutuhkan tenaga manusia 30 orang untuk mendapatkan 50 kg biji mete kupas dalam sehari. Sementara menggunakan mesin pemecah biji mete yang diciptakannya ini, 50 kg dapat diselesaikan hanya dengan waktu 1 jam. Efisiensi waktu dan biayanya benar-benar dapat ditekan. “Kita sudah berani terima pesanan luar negeri untuk biji mete kupas. Dengan catatan, mesin ini bisa diproduksi massal,” imbuhnya.

Mesin pengupas biji mete ini bukan lantas membunuh tenaga kerja pengupas yang selama ini dilibatkan. Justru pekerjanya bisa dialihkan ke pekerjaan lain untuk memproduksi aneka turunan produk berbahan baku biji mete.

Melalui rumah produksi biji mete “Kalika Cashew”, biji mete yang sudah dikupas diolah menjadi aneka produk. Di antaranya, biji mete dengan tujuh varian rasa, bumbu pecel mete, bumbu rujak mete, susu kacang mete dan selai kacang mete.

“Pekerja yang terlibat dalam pengupasan biji mete secara manual selama ini, bisa dipekerjakan untuk produk turunan biji mete lainnya. Tenaga kerja yang konvensional selama ini justru terkonversi ke kegiatan usaha yang lebih modern,” jelas Lalu Wahidin.

Dengan mesin pengupas biji mete ini, Lalu Wahidin tengah mempersiapkan untuk membuka lapangan pekerjaan lebih luas. Setidaknya di Lingkungan Anshor, Jempong Baru Kota Mataram. Tinggal memperbanyak produksi mesin untuk mempercepat proses pengupasan dan produksi aneka turunan produk berbahan baku biji mete.

Lalu Wahidin tengah mengupayakan untuk hak cipta mesin pengupas biji mete ini, harapannya, pemerintah melalui dinas terkait bisa memfasilitasinya.

Mesin berteknologi sederhana ini juga sudah diperkenalkan ke Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno dalam kunjungan penilaian Kampung Wisata di Loang Baloq, Kota Mataram, Sabtu (25/6/2022). Turut disaksikan juga oleh Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana dan Camat Sekarbela, Cahya Samudra. (bul)