Cerita Keluarga PMI Korban Kapal Tenggelam Loteng Berharap Ada Keajaiban, Gelar Tahlillan Mohon Keselamatan

0
Keluarga L. Ahmat Sapii dan Marwi di Desa Tumpak Kecamatan Pujut, korban kapal yang tenggelam di Kepri berkumpul sambil menunggu informasi lebih lanjut mengenai kabar korban. Pihak keluarga sudah menggelar tahlilan pada korban dan berharap yang belum ditemukan dalam kondisi selamat. (Suara NTB/kir)
ads top adsamman

Enam dari 30 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi korban kapal tenggelam di perairan Pulau Putri, Batam, Kepulauan Riau, hingga saat ini masih hilang dan belum diketahui nasibnya. Sementara satu orang atas nama L. Ahmat Sapii (38) warga Dusun Bunpek Desa Tumpak Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) yang sebelumnya dinyatakan hilang, sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh petugas Coast Guard Singapura, Selasa, 21 Juni 2022.

DARI enam orang korban kapal tenggelam yang masih hilang tersebut, ada nama Marwi (30) yang masih satu keluarga dengan L. Ahmat Sapii. Keduanya memang berangkat ke Batam dan menumpangi kapal yang sama ke Malaysia, pada malam naas tersebut. Pihak keluarga kedua korban pun mengaku ikhlas dengan musibah yang terjadi. Meski peluang selamat terbilang kecil, namun keluarga korban tetap berharap ada keajaiban.

“Selama masih belum diketemukan, masih ada peluang sekecil apapun itu,” ujar Nasri, salah satu keluarga korban.

Pihak keluarga berharap anggota keluarga yang belum ditemukan bisa segera ditemukan dalam kondisi apapun. Apakah itu sudah meninggal dunia, tapi sangat berharap dalam kondisi selamat. Supaya keluarga yang menunggu dirumah bisa segera mendapat kepastian.

Pihak keluarga korban mengaku mendapat kabar akan musibah kapal tenggelam tersebut dari pemberitaan di media online. Namun baru mengetahui kalau L. Ahmat Sapii dan Marwi, belum diketemukan dari Ahmad Fikri, salah seorang korban selamat, beberapa jam setelah kejadian. Dan, memutuskan untuk menggelar tahlilan sehari setelah kedua korban tidak kunjung ditemukan.

Tahlilan digelar untuk memohon doa supaya kedua anggota keluarga yang jadi korban bisa diberikan keselamatan. Karena menurut keluarga, sekecil apapun peluang untuk selamat masih tetap ada. “Keluarga memutuskan menggelar tahlilan untuk memohon keselamatan,” ujarnya.

Masnah, orang tua L. Ahmat Sapii menuturkan, putranya berangkat ke Malaysia dengan tujuan Pahang, Malaysia Barat. Sebelumnya, Sapii sendiri sudah pernah bekerja di Malaysia selama 10 tahun lama, melalui jalur resmi. Dan, memutuskan pulang pada tahun 2018 lalu untuk selanjutnya melangsungkan pernikahan.

Selama berada di kampung halaman, Sapii yang keseharinya berprofesi sebagai peternak sapi tetap intens berkomunikasi dengan mantan majikannya di Malaysia. Sampai kemudian Sapii yang kini sudah memiliki anak, memutuskan untuk berangkat lagi ke Malaysia. Niatanya hanya satu, mencari modal tambahan untuk biaya membangun sumur bor. Yang nantinya bisa digunakan untuk beternak.

Berangkat tanggal 7 Juni kemarin, Sapii kali ini memutuskan masuk ke Malaysia secara non prosedural melalui Batam. Pasalnya, kalau menunggu pengiriman PMI melalui jalur resmi oleh pemerintah belum dibuka waktu itu. Sementara Sapii sendiri sudah ditunggu majikannya di Malaysia. “Bahkan, majikannya sendiri yang mengirimi uang untuk biaya keberangkatan ke Malaysia,” terang Masnah.

Demikian halnya dengan Marwi, keberangkatannya ke Malaysia kali ini merupakan yang kedua kalinya. Berangkat bersamaan dengan Sapii, Marwi singgah dan tinggal terlebih di Batam selama sekitar 10 hari. Dan, bersama 28 orang PMI lainnya, Marwi dan Sapii pun berangkat pada hari Jumat, 17 Juni 2022 malam, sekitar pukul 07.30 WIB, menuju Malaysia.

Sebelum berangkat, Sapii sempat menjalin kontak dengan keluarganya untuk memberitahukan kalau dirinya akan berangkat ke Malaysia. Dan, itulah kontak terakhir korban dengan keluarganya di rumah. Sebelumnya kemudian dikabarkan hilang dan ditemukan meninggal dunia.

Dari cerita Ahmad Fikri, tambah Masnah, musibah kecelakaan kapal bermula ketika kapal yang ditumpangi korban mengalami mati mesin saat sudah berada di tengah laut. Lantaran mesin kapal tersangkut pelepah kelapa. Tapi masih di wilayah perairan Indonesia. Para penumpang pun dibuat panik, lantaran air laut mulai masuk melalui bagian mesin kapal.

Dalam kondisi minim penerangan, para penumpang kemudian memutuskan untuk terjun ke laut dari sisi kanan kapal. Hingga membuat kapal oleng dan terbalik. Sejumlah kapal nelayan yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian pun datang melakukan penyelamatan, setelah mendengar teriakan minta tolong dari para korban.

Namun hanya 23 orang yang akhirnya berhasil selamatkan. Sementara tujuh penumpang serta nahkoda kapal tidak berhasil ditemukan. Sampai kemudian tim SAR datang untuk menjemput para korban yang selamat. “Sekitar satu jam setelah kejadian, kapal nelayan sempat berputar-putar untuk mencari sisa korban yang belum ditemukan. Tapi tidak membuahkan hasil,” tutupnya. (kir)