Obat-obatan Tersedia, Tingkat Kesembuhan Ternak PMK di Lobar Meningkat 60 Persen

0
Ternak terjangkit PMK di Sekotong yang ditangani petugas kesehatan hewan (keswan) Distan Lobar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Tingkat kesembuhan ternak yang terjangkit PMK di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) meningkat dari sebelumnya 30 persen menjadi 60 persen. Peningkatan kesembuhan ini dampak dari gencarnya penanganan oleh Pemda melalui Dinas Pertanian. Sejauh ini, ketersediaan obat-obatan cukup tersedia, sehingga pengobatan ternak digencarkan.

Berdasarkan data Dinas Pertanian per tanggal 22 Juni 2022, jumlah ternak terjangkit PMK sebanyak 9.216 ekor. Kasus PMK ini tersebar di semua kecamatan dengan rincian di Kecamatan Gerung dan Lembar paling tinggi jumlah ternak terpapar PMK, masing-masing 2.530 ekor di Kecamatan Gerung, 2.472 ekor di Kecamatan Lembar. Selanjutnya di Sekotong 1.451 ekor. Kecamatan Gunungsari 725 ekor, Narmada 668 ekor, Batulayar 572 ekor, Labuapi 288 ekor, Kediri 232 ekor, Lingsar 256 ekor, dan Kuripan 122 ekor.

‘’Dari total 9.216 ekor terjangkit PMK, 4.027 ekor masih sakit dan 5.179 ekor sudah sembuh atau sekitar 60 persen lebih. Artinya lebih banyak ternak yang sudah sembuh dan yang mati 8 ekor,” kata Kepala Distan Lobar H. Lalu Winengan, Kamis, 23 Juni 2022.

 

Dijelaskan, terjadi peningkatan kesembuhan ternak PMK dari 30 persen menjadi 60 persen. Terjadi peningkatan kesembuhan ternak PMK, karena penanganan yang terus-menerus dilakukan oleh timnya. Di mana ketika ada laporan masuk, ada ternak terkena PMK yang butuh penanganan, pihaknya gerak cepat turunkan tim kesehatan hewan, sehingga, hampir semua ternak yang terjangkit pun sudah ditangani (diobati). Soal kendala obat-obatan, sejauh ini sudah bisa sedikit terbatasi.

Di mana pihaknya saat ini sudah memiliki stok obat yang memadai untuk kebutuhan ke depan. “Hanya Lobar yang punya banyak obat-obatan,” ujar Winengan.

Namun demikian, pihaknya tetap mengimbau semua petani agar menjaga berbagai potensi penularan PMK ini. Seperti tetap menjaga kebersihan kandang, tidak sembarang keluar masuk kandang. Selain itu, tetap mengawasi para oknum pembeli ternak yang keluar masuk ke daerah masing-masing. Karena, kata dia, penularan PMK ini juga berpotensi melalui manusia, sehingga petugas yang melakukan penyuntikan pun harus benar-benar steril.

“Apalagi kalau ada oknum penendak (pembeli) ternak itu yang keluar masuk, berpotensi menularkan PMK,” tegasnya. Terkait itu, pihaknya pun terus berkoordinasi dengan kepolisian untuk membantu mengawasi.(her)

Tiitle Ads