Distanbun NTB Aktifkan Brigade Alsintan untuk Membantu Petani Tembakau

0
Kondisi tembakau petani yang sempat terendam air saat cuaca ekstrem. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB akan mengaktifkan kembali Brigade Alsintan yang sebelumnya mati suri. Tim ini dipersiapkan untuk membantu para petani, terutama petani tembakau saat dalam situasi darurat. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Drs. H. Fathul Gani, M.Si yang belum lama ini dilantik mengatakan, ide untuk mengaktifkan kembali Brigade Alsintan ini karena melihat areal tanam tembakau virginia Lombok yang baru-baru ini terendam karena cuaca ekstrem.

“Brigade Alsintan ini harus aktif 24 jam,” demikian direktif mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB ini kepada media, Selasa, 21 Juni 2022. Brigade ini dilengkapi dengan alat-alat mesin pertanian yang siap dimanfaatkan, saat petani tembakau membutuhkan. Ada ada traktor, ada pompa air sebagai alat pendukungnya. Alat-alat ini bisa digunakan salah satunya bila lahan pertanian tembakau terendam saat cuaca ektsrem.

Seperti diketahui, tanaman tembakau adalah salah satu jenis tanaman perkebunan yang relatif tidak membutuhkan banyak air. Namun tantangan tanaman tembakau saat ini adalah cuaca ekstrem yang tidak sulit diprediksi perubahannya. Saat ini misalnya, memasuki musim kemarau, justru intensitas hujan tinggi.

Tentunya, perubahan iklim ini akan sangat mempengaruhi pertanian tembakau. Fathul Gani mengatakan, areal tembakau di wilayah selatan Pulau Lombok yang perlu diantisipasi terendam jika terjadi hujan ekstrem. Mengingat, jenis tanahnya dominan tanah liat yang lambat airnya meresap. “Kalau di wilayah utara, sepertinya tidak terlalu mengkawatirkan walaupun hujan. Bisa terserap langsung karena karakteristik tanahnya jarang. Kalau di wilayah selatan tanah padat dan liat. Kalau terendam lama airnya bisa hilang,” imbuhnya.

Untuk mencegah kerugian petani, dalam situasi darurat membutuhkan mesin penyedot air, dapat menghubungi langsung Brigade Alsintan. Atau kelompok petani dapat bersurat ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, dengan stempel diketahui kepala desa setempat. Laporannya dapat ditangani langsung. “Kalau terjadi serangan hama yang ekstrem, bisa juga dilaporkan ke Brigade Alsintan untuk ditangani,” imbuhnya.

Apakah gratis pelayanannya? Fathul Gani menegaskan, untuk kondisi darurat, tidak dibebankan apapun kepada petani. Tetapi dalam kondisi normal, bagi petani yang membutuhkan alat-alat Brigadi Alsintan ini hanya dikenakan biaya penggantian BBM.

Fathul Gani menambahkan, meski demikian, petani juga diminta tetap waspada. Terutama di wilayah selatan jika terjadi cuaca ekstrem sewaktu-waktu. Antisipasi bisa dilakukan dengan membuat drainase yang lebih lebah di pinggir – pinggir sawahnya. Atau menggali setiap sisi areal tanaman tembaku sebagai pembuangan/penampungan air.

Pihaknya juga meminta dilakukan upgrade kompetensi penyuluh untuk memahami karanteristis cuaca dan memberikan solusi kepada petani. Karena itu, rencananya akan dilibatkan juga BMKG untuk sosialisasi kepada petani-petani tembaku terkait perubahan iklim.

“Karena saya masuk dipertengahan jalan di Distanbun, untuk tahun 2023, perencanaannya kami akan ajukan dana DBH-CHT sebesar Rp2 miliar sebagai dana kesiap-siagaan. Kalau terjadi perubahan alam yang membuat tembakau petani, bisa diganti untuk menanam kembali, atau membeli pupuk. Kita upayakan usulan di APBD-P 2022 ini,” demikian Fathul Gani. (bul)