Tiga Tahun Terbengkalai, Rumah Relokasi di Kota Bima Dipenuhi Belukar

0
Kondisi rumah relokasi di Kadole, Kota Bima yang nampak tak terurus hingga dipenuhi semak belukar, Senin, 20 Juni 2022. (Suara NTB/Uki)

Kota Bima (Suara NTB) – Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bima, membangun rumah relokasi tahun 2017 dan selesai 2019 untuk korban banjir bandang Kota Bima 2016.

Tiga tahun selesai pembangunan, rumah  tersebut hingga kini belum juga ditempati oleh penerima manfaat, salah satunya yang berada di Lingkungan Kadole Kecamatan Rasanae Timur. Karena belum dihuni, kondisinya cukup memprihatinkan, nampak tidak terurus, bahkan dipenuhi semak belukar.

Rumah tersebut diperuntukkan bagi warga Kota Bima yang menjadi korban banjir bandang Kota Bima tahun 2016 silam, serta warga yang memiliki rumah di sepanjang bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Padolo yang akan dibongkar untuk program pelebaran sungai.

Informasi yang dihimpun Suara NTB, rumah tersebut sudah berstatus milik warga, hanya saja mereka belum menempati dengan beragam faktor dan alasan, seperti lokasinya yang jauh dari sarana dan prasarana pendukung, seperti akses ekonomi, pasar, sekolah hingga sinyal telepon.

Kepala Dinas Kominfotik Kota Bima, Drs. H. Mahfud M.Pd mengakui kondisi rumah relokasi yang berada di Kadole tidak terurus dan dipenuhi semak belukar. Penyebabnya kata dia, karena belum ditempati oleh penerima manfaat.

“Rumah yang ada semak belukarnya karena belum ada penghuninya. Sementara yang lain, yang sudah ditempati tidak ada,” katanya kepada Suara NTB, Senin (20/6).

Lebih lanjut Mahfud mengaku, seharusnya rumah tersebut sudah ditempati atau terisi semuanya sejak lama. Hanya saja, penerima manfaat dari bantuan tersebut enggan menempati karena masih betah tinggal di rumahnya yang dulu. “Penerima manfaat belum mau pindah ke tempat relokasi karena masih betah tinggal di tempat asalnya,” ujarnya.

Meski begitu, Pemkot Bima akan terus  mengupayakan agar warga segera pindah dan menetap di tempat relokasi. Pasalnya tahun 2022 ini, program pelebaran sungai di Kota Bima akan mulai dikerjakan. “Akan dilakukan pendekatan persuasif bersama Lurah dan Camat agar warga segera pindah, karena program normalisasi sungai mulai dikerjakan 2022 ini,” ujarnya.

Ia berharap warga yang menjadi korban banjir serta yang memiliki rumah di sepanjang DAS Melayu dan Padolo agar segera pindah dan menempati rumah relokasi yang disiapkan Pemerintah sehingga normal sungai yang merupakan program nasional bersama JICA berjalan dengan lancar. “Kita berharap mulai sekarang warga segera pindah dan menempati rumah relokasi. Jika tidak, program normalisasi sungai tidak bisa berjalan dan bermasalah nantinya,” ujarnya.

Disamping itu, kata Mahfud, Pemkot juga tengah memikirkan penambahan rumah sebagai pengganti rumah milik warga di bantaran sungai yang akan dibongkar untuk normalisasi sungai, tapi tidak terdata atau kebagian menempati rumah di tempat relokasi.

“Rumah warga di bantaran sungai yang akan dibongkar untuk normalisasi sungai  akan tetap dipikirkan dan diakomodir. Kemungkinan akan membangun rumah tambahan dan anggarannya akan dikoordinasikan ke pihak-pihak terkait,” pungkasnya. (uki)