Jamin Keamanan Investasi di Samota, Rencana Kontinjensi Kawasan Harus Dilakukan

0
Rahmat Sabani (Suara NTB/ham)

Mataram (Suara NTB) – Kawasan Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (Samota) saat ini menjadi perhatian dunia dengan digelarnya event Motocross Grand Prix (MXGP). Apalagi saat ini, logistik MXGP dan tim dari INFRONT sudah tiba di lokasi balapan. Selain sebagai lokasi balapan, kawasan Samota juga memiliki potensi besar untuk berinvestasi, mulai dari kelautan, perikanan, pertanian, perkebunan dan lainnya.

Meski demikian menurut Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) NTB Rahmat Sabani,jika Pemprov NTB ingin mengembangkan kawasan Samota seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sebagai kawasan investasi, maka pemerintah harus memberikan rasa aman. Investor yang menanamkan modalnya dalam jumlah besar tentu ingin investasi yang dilakukan berlangsung aman, baik dari sisi infrastruktur yang dibangun dan keberlanjutan usahanya.

‘’Ini yang kita harapkan dibuatkan semacam rencana kontinjensi untuk kawasan. Karena kawasan itu selain menjadi kawasan prioritas juga punya potensi ancaman bencana. Karena itu, rencana kontinjensi itu penting untuk menjamin bahwa upaya-upaya pengurangan risiko kita lakukan di situ dengan rencana yang jelas dan terukur,’’ ungkapnya menjawab Suara NTB di Hotel Fave Mataram, Senin, 20 Juni 2022.

Diakuinya, pihaknya sempat bicara dengan pihak pengelola Samota dan rencana ini diapresiasi agar segera dilakukan kontinjensi. Hal ini sebagai upaya semua pihak untuk membangun sistem upaya risiko bencana di kawasan Samota bisa diminimalisir.

Rahmat Sabani menyebut, ancaman bencana di kawasan Samota cukup banyak. Apalagi berada di kawasan teluk, ada potensi terjadinya abrasi, bencana banjir, longsor, termasuk keberadaan Gunung Tambora.

‘’Nanti kalau terjadi hujan akibat perubahan iklim ini, gerusan akan terjadi. Kalau dalam teori berpotensi terjadi penggergahan di situ dan ini mengancam investasi. Kalau tidak ada upaya-upaya, tidak hanya ancaman kekeringan, ancaman banjir juga mesti diwaspadai. Ini kita ingin mengeliminasi itu,’’ ujarnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H. Sahdan, S.T., M.T., mengapresiasi rencana kontinjensi di kawasan Samota. Namun, rencana ini akan coba direalisasikan tahun 2023 mendatang.

Menurutnya, kontinjensi kawasan Samota ini mutlak diperlukan, karena kawasan ini merupakan kawasan bisnis.  Sebab nanti tanpa rencana kontinjensi kawasan Samota bisa membuat investor urung melakukan investasinya. Untuk itu, pihaknya berharap tahun depan rencana kontinjensi ini bisa digarap.

Diakuinya, Samota memiliki banyak ancaman bencana, seperti banjir, tanah longsor di kawasan Tambora. Kemudian gempa bumi, tsunami pasti ada, karena berdekatan dengan laut. Dan ini masuk dalam masuk sesar utara dari Flores. ‘’Cuma kemarin, sesar itu meletusnya di KLU. Tapi kita tidak tahu suatu ketika bisa terjadi di Samota. Karena bencana ini, kita tidak tahu kapan terjadinya.

NTB di selatan ini mega thrust, dan utara sesar Flores. Di samping ada banjir, longsor, puting beliung. Belum lagi munculnya penyebab non alam, seperti Covid-19,’’ tambahnya.

Menurutnya, rencana kontinjensi ini harus diperluas, supaya orang berinvestasi tahu yang dihindari. Dari kontinjensi inilah nanti, investor bisa lebih memperhatikan rencana investasi, kemudian jenis bangunan yang dibuat lebih tahan terhadap ancaman bencana. ‘’Karena rekon (rencana kontinjensi) ini dasar investor mau menanamkan investasi di satu daerah. Termasuk juga masalah tata ruang. Jangan-jangan nanti, kontinjensi dijadikan persyaratan bagi mereka dalam berinvestasi di satu daerah,’’ ujar mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang NTB ini. (ham)