Gapasdap Lembar : Tidak Ada Pungli ABK ke Pengangkut Ternak

Mataram (Suara NTB) – Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) membantah soal dugaan pungli yang dilakukan oleh awak kapal penyeberangan kepada para pengangkut ternak. Sebelumnya beredar informasi di media sosial, soal adanya dugaan pungli oleh ABK di salah satu kapal penyeberangan Lembar (Lombok Barat)-Ketapang (Banyuwangi Jawa Timur).

Ketua Gapasdap DPC Lembar, Denny F. Anggoro didampingi Sekretaris DPC Gapasdap Lembar, Etty SA mengatakan, tidak boleh ada pungutan apapun oleh ABK di dalam kapal, kepada penumpang. Soal dugaan pungli yang dilakukan salah satu ABK Kapal kepada pengangkut ternak, menurutnya harus diperhatikan konteksnya.

Denny menjelaskan, pengusaha kapal penyeberangan mendapatkan penugasan dari Dinas Perhubungan NTB untuk membolehkan angkutan ternak dalam penyeberangan reguler dari Pelabuhan Lembar. Baik ternak ruminansia (ternak menyusui), maupun ternak unggas. Mengakut kendaraan pembawa ternak menurutnya diperlukan perlakukan khusus.

Berbeda dengan kendaraan-kendaraan non angkutan ternak. Denny mengatakan, apalagi untuk perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang membutuhkan waktu belasan jam. “Kalau suhu panasnya di dalam kapal tinggi, ternak-ternak ini harus didinginkan. Disemprot dan sebagainya. Kotorannya juga bisa tercecer. Dan kegiatan membutuhkan penanganan ekstra. Ya sebagai ucapan terimakasih kali ya, pengangkut ternaknya kepada ABK,” kata Denny.

Untuk membersihkan kotoran ternak, dan membuat ternaknya tidak dehidrasi bahkan pingsan sepanjang perjalanan, pembersihannya harus menggunakan air bersih (air tawar). Bahkan, kata Denny, bekas-bekas kotoran ternak ini harus dibersihkan dengan deterjen untuk menghilangkan aromanya.

“Selain layanan ekstra, ada kebutuhan tambahan yang dibayar oleh ABK untuk menangani ternak-ternak yang dibawa ini. Misalnya deterjen pembersih. Dan air yang digunakan di kapal juga air yang dibeli. Lantas kalau ada imbal jasa yang diberikan kepada ABK, apakah itu dikatakan pungli, kan tidak,” ujarnya.

Pungli sebagaimana diketahuinya adalah kesepakatan penarikan dana sepihak yang dibuat oleh salah satu pihak kepada pihak lain. Tarifnya bahkan ditentukan. “Nah, di sini, tidak ada ketentuan tarif dari ABK. Mungkin itu dikatakan sebagai penggantian jasa, atau ucapan terimakasih kepada ABK. Apa iya itu mau dikatakan pungli,” imbuhnya.

Denny menegaskan, semua pihak mesti memahami persoalan secara kaffah. Agar tidak salah ditafsirkan. “Tidak semua ABK juga melakukan hal itu,” demikian Denny. (bul)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...