Diduga Terlibat Perambahan Hutan, DLHK NTB Tahan Oknum Tenaga Honorer DLHK Bima

0
Ilustrasi . (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Penindakan terhadap pelaku perusak hutan atau illegal logging dilakukan tanpa pandang bulu. Oknum-oknum petugas di lapangan maupun warga yang terlibat dalam perambahan hutan ini akan ditindak tegas sesuai dengan aturan yang berlaku di negara ini.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Perlindungan Hutan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB Mursal, S.T., M.Si., pada diskusi dan dialog yang digelar Forum Pengurangan Risiko Bencana NTB dengan Dunia Usaha dan Media Massa di Hotel Fave Mataram, Senin, 20 Juni 2022.

Sebagai bentuk ketegasan DLHK NTB dalam menindak pihak-pihak yang terlibat dalam perambahan hutan, Mursal mengungkapkan, pada tahun 2021 pihaknya menangkap 33 warga setelah terbukti di lapangan melakukan perusakan hutan.

Bahkan, belum lama ini, pihaknya menangkap 2 oknum tenaga honorer yang juga bertugas di DLHK di Bima yang diduga terlibat pada perambahan hutan.  Secara pribadi pihaknya menyayangkan adanya oknum-oknum yang justru menjaga hutan, melakukan perusakan hutan yang berdampak negatif bagi alam di masa mendatang.

‘’Kami juga melakukan operasi yustisi dengan melibatkan TNI-Polri. Menangkap-menangkap mereka yang tidak kunjung tobat,’’ tegasnya.

Diakuinya, perusakan hutan yang berdampak pada bencana menjadi pekerjaan besar dari pihaknya untuk dicegah. Namun, kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan, termasuk pohon-pohon yang merupakan hasil reboisasi sangat minim,

Mursal mencontohkan, di Bima ketika sudah panen jagung di kawasan hutan, sejumlah oknum justru merusak pohon hasil reboisasi itu. Jika di siang hari masih ada petugas yang melakukan pengawasan, tapi pada saat tidak ada petugas, mereka melakukan pembabatan secara sembunyi-sembunyi. Setelah itu, tanaman pohon yang sudah ditanam itu dipotong dan dikumpulkan di satu tempat bersama dengan bekas jagung atau tanaman yang ada di lahan tersebut.

‘’Pada puncak musim kering nanti, Agustus dan September, mereka mengendap-endap ke sana membawa bahan bakar kemudian membakar dan melarikan diri serta memantau dari kejauhan. Hal ini menyebabkan reboisasi yang dilakukan pemerintah dan pemerhati lingkungan sia-sia.

Pihaknya juga mengklarifikasi terkait kebakaran yang terjadi di hutan. Menurutnya, jika hutan terbakar bukan karena sebagai sebuah kebakaran, tapi pembakaran yang dilakukan dengan sengaja.  Untuk itu, pihaknya mengharapkan pada semua pihak untuk menjaga hutan agar tetap lestari. Jika hutan sudah lestari setidaknya bisa meminimalisir dampak dari bencana alam yang terjadi. (ham)

Tiitle Ads