BMKG : Perubahan Iklim Tahun Ini Tak Baik untuk Tanaman Tembakau

0
Proses pembibitan tembakau. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan Provinsi NTB tahun ini masih mengalami La Nina. Siklus iklim ini berdampak terhadap perubahan iklim di NTB yang relatif basah sepanjang tahun. La Nina adalah fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Ketika La Nina terjadi, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum. Restu Patria Megantara, Koordinator bidang Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Lombok Barat membenarkan, jika La Nina masih akan terjadi hingga memasuki musim penghujan nanti. “Kita kan memasuki La Nina ini sejak tahun 2020, dan sekarang daerah kita sudah memasuki musim kemarau, namun masih hujan. Jadi prediksi kami ini akan terjadi sepanjang tahun,” kata Restu.

Menurutnya, kondisi iklim seperti ini akan sangat baik untuk sektor pertanian. Terutama tanaman pangan dan hortikultura. Hanya saja, La Nina dinilai tidak baik untuk tanaman tembakau yang biasa ditanam petani ketika memasuki musim kemarau. “ini sangat baik untuk pertanian kita, tapi kalau untuk tembakau saya kira tidak pas ya kan kita tau tembakau ini kurang bagus kalau kena hujan.” jelas Restu.

Untuk itu, petani diingatkan tentang potensi kerugian jika memaksakan diri menanam tembakau. Apalagi siklus La Nina terjadi secara merata di seluruh wilayah NTB. Restu menambahkan, La Nina menyebabkan Provinsi NTB mengalami kemarau basah sepanjang tahun ini. Masyarakat diimbau untuk mengikuti perkembangan iklim BMKG terutama dalam menentukan pola tanam dan lain sebagainya.

Diketahui, saat ini petani tengah menghadapi musim tanam tembakau virginia. Tanaman ini diketahui sebagai tanaman yang tak banyak membutuhkan air. Karena akan mempengaruhi kualitas daunnya. Baik dari segi rasa, warna, hingga beratnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muh. Riadi melalui Kepala Bidang Perkebunan, H. Rifai, Rabu, 25 Mei 2022 meyakinkan, informasi soal cuaca ini sudah disampaikan oleh PPL dan perusahaan mitra petani tembakau. “Teman-teman petani sudah tahu. Dan mereka sudah paham kondisi lapangannya,” jelas H. Rifai.

Saat ini petani masih dalam persiapan pembibitan. Pada periode yang sama, Mei tahun lalu, justru penanaman sudah banyak dilakukan. Dimasa-masa pembibitan ini, dibutuhkan suhu yang baik dan kecukupan air. H. Rifai menambahkan, perkiraan cuaca tahun ini untuk petani tembakau di Lombok, justru lebih baik dibandingkan perkiraan cuaca di Pulau Jawa yang juga menjadi sentra penanaman tembakau.

“Kalau di Jawa, perkiraan hujannya tinggi. Disana petani sudah melakukan penyemaian, artinya, kemungkinan peningkatan produktivitas tembakau dan kuantitasnya di Jawa akan rendah. Ini kesempatan emas bagi petani kita di Lombok kalau tembakau di Jawa terpengaruh,” katanya. Karena itu, ia justru meyakinkan tahun ini menjadi peluang bagi petani. Dan petani tembakau sudah punya strategi untuk mengantisipasi perubahan cuaca. (bul)

Tiitle Ads