Kesembuhan Ternak Terjangkit PMK 86 Persen, Lobar Desak Pemprov Bantu Obat-obatan

0
Tim Kesehatan Hewan Distan Lobar turun malam-malam untuk menangani ternak yang terindikasi PMK di Dusun Telaga Lebur Dese Desa Sekotong Tengah . (Suara NTB/ist)

Praya (Suara NTB) – Penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak, khususnya sapi di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terus meluas. Namun sisi positifnya, angka kesembuhan ternak terjangkit PMK cukup tinggi mencapai 82 persen dengan nol kasus kematian.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Loteng, Taufikurrahman PN., kepada wartawan, Rabu, 26 Mei 2022.

Ditemui di gedung DPRD Loteng, ia mengatakan saat ini kasus PMK sudah menyebar di 36 desa dari sebelumnya 31 desa dan tersebar di 9 kecamatan. Hingga tanggal 24 Mei, total 1.374 ekor sapi yang terjangkit PMK. “Jumlah ini naik dari tanggal sebelumnya sebanyak 1.285 ekor sapi,” jelasnya.

Dari total ternak yang terjangkit PMK, sudah 504 ekor yang dinyatakan sembuh. Artinya, masih ada 870 ekor sapi atau 58 persen yang masih belum sembuh. Tapi jika melihat tren yang ada kasus kesembuhannya ternak Loteng cukup tinggi, karena 82 persen ternak yang seminggu yang lalu sakit, saat ini sudah sembuh.

Untuk mencegah penyebaran PMK, selain melakukan pendekatan kepada peternak supaya melakukan isolasi kandang, desinfektan serta pengobatan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pemerintah desa. Guna melakukan penjagaan dari potensi keluar masuk ternak. Karena tentu pemerintah kabupaten daerah tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa keterlibatan pemerintah desa di bawah.

Jadi pemerintah desa nanti diingatkan untuk sama-sama menjaga desanya dengan tidak memberikan kesempatan bagi ternak di desa tersebut keluar, atau sebaliknya mencegah masuknya ternak luar. “Jadi kalau ada yang macam-macam, segera laporkan ke petugas atau aparat setempat. Nanti akan diambil tindakan tegas,” terangnya.

Arman – sapaan akrab Kepala Dinas Pertanian Loteng ini mengaku, sampai saat ini pihaknya masih kesulitan dalam hal obat-obatan, sehingga swadaya masyarakat dalam menyediakan obatan sangat diharapkan. Nanti dinas akan kolaborasi menyiapkan layanan pengobatan dan petugas secara gratis. Jadi peternak cukup menyediakan obat-obatan, nanti petugas yang akan membantu melakukan pengobatan.

Memang ada rencana dari pemerintah daerah untuk mengadakan obat gratis, melalui BPBD Loteng. Tapi mengingat anggarannya terbatas, jadi obat yang disiapkan juga terbatas. “Nanti obat yang disiapkan oleh pemerintah ini akan diarahkan untuk menangani ternak yang kondisinya parah. Jadi tidak semua yang bisa diobati. Hanya yang kondisinya parah saja. kalau lain, kita tetap harapkan swadaya dari masyarakat,” tandas Arman.

PMK juga meluas di wilayah Lombok Barat (Lobar). Kini penyakit ternak itu merambah hingga ke wilayah Sekotong. Salah satu dusun yang terjangkit adalah Dusun Telaga Lebur Dese, Desa Sekotong Tengah.

Kadus Telaga Lebur Dese Putra Wadi menegaskan pihaknya telah mendata sementara jumlah ternak yang terindikasi terkena PMK, sebanyak 45 ekor. Bahkan dari sekian ternak itu, terdapat beberapa ekor yang mengeluarkan darah pada hidungnya.

Akibat temuan ternak yang terkena PMK ini, para peternak pun sedikit gusar dan khawatir. Namun untungnya pihaknya dengan cepat melaporkan kejadian itu ke petugas. Sehingga begitu masuk laporan, malam itu juga petugas kesehatan Dinas pertanian yang bertugas di Kecamatan Sekotong turun melakukan penanganan. Petugas menyuntik ternak dengan obat-obatan dan antibiotik. Namun dari 45 ekor ternak yang terjangkit, yang bisa disuntik sekitar 33 ekor, karena keterbatasan obat-obatan.

Kepala Dinas Pertanian Lobar H. Lalu Winengan merespon aduan warga itu langsung gerak cepat menerjunkan Tim Kesehatan Hewan. “Begitu laporan masuk pada malam hari, tim langsung turun melakukan penanganan,” kata Winengan. Terkait adanya ternak yang mengeluarkan darah pada hidung, itu karena yang diserang hidungnya.

Ia meminta agar petani peternak tetap tenang, karena PMK bisa diobati. Selain itu, pihak aparat harus menjaga ketat pada pedagang dan jagal ternak agar jangan sampai turun ke kadang-kadang peternak, sehingga rawan penularan PMK.

Terkait ternak yang belum diobati, pihaknya segera melakukan penyuntikan untuk sisa ternak yang belum. Karena diakui memang perlu penambahan obat-obatan. Karena itulah pihaknya mendesak Pemerintah Provinsi NTB untuk turun tangan membantu penanganan. Baik untuk obat-obatan, vitamin dan antibiotik. (kir/her)

Tiitle Ads