Potensi Pendapatan Hilang Rp1,2 Miliar dari Lahan LCC

0
Aset Lobar di LCC Narmada ini terbengkalai, sehingga menyebabkan Rp1,2 miliar potensi pendapatan daerah hilang. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Potensi pendapatan daerah Lombok Barat (Lobar) hilang dari aset lahan mal Lombok City Center (LCC), akibat lahan seluas 8,6 hektar itu tak dimanfaatkan sejak 2017 lalu. Diperkirakan potensi pendapatan Lobar yang hilang per bulan Rp200 juta hingga Rp250 juta. Jika dikalkulasikan selama lima tahun mencapai Rp1,2 miliar lebih. Kondisi saat ini, lahan yang dulu disewakan Pemda itu terbengkalai dan menganggur. Lahan yang berstatus kelas I tidak dimanfaatkan sama sekali.

Karena itulah, pihak Pemda berupaya mencari celah untuk mengambil alih aset yang telah dijadikan penyertaan modal bagi BUMD PT Tripat tersebut.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Lobar H. Fauzan Husniadi mengatakan pihaknya berupaya mencari celah untuk bisa mengembalikan atau mengambil alih aset itu. Pasalnya aset itu telah dijadikan penyertaan modal, sehingga yang perlu dilakukan, pihak BUMD harus merapikan. “Tapi kalau ditanya bagaimana keinginan kami, saya selaku Kepala BPKAD akan mengambil alih lahan itu, kalau ada ruang. Karena itu lahan kelas I,” kata dia.

Pihaknya pun sudah melakukan komunikasi dengan beberapa pihak, hasilnya kata dia ada celahnya.

Lahan itu harus diselamatkan agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan daerah dan masyarakat Lobar. Karena bagiamanapun kata dia, lahan itu masuk kelas I. Sewa lahan kelas I saja, Rp25 juta per hektar per bulannya dikalikan lahan seluas 8,6 hektar.

Selama setahun, pendapatan yang seharusnya bisa diperoleh mencapai Rp200-250 juta. Kalau ditotal selama aset itu tak dimanfaatkan semenjak tahun 2017, maka potensi pendapatan yang hilang dari sisi pengelolaan aset daerah itu mencapai Rp1,2 miliar lebih. “Kalau dikalikan Rp200-250 juta setahun, kemudian sejak lahan tak dimanfaatkan (2017 red), maka miliaran hilang. Itu kalau dari sisi sewa aset,” tegas dia.

Lebih lanjut dikatakan, aset ini sendiri berkasus, sehingga menyeret mantan Dirut PT Tripat. Saat ini, Pihaknya memegang tiga sertifikat. Sedangkan sisanya beberapa sertifikat lagi berada di bank, karena diduga diagunkan. “Sertifikat yang ada di kami itu tiga sertifikat. Kalau ndak salah di sana itu ada enam sertifikat,” jelas dia.

Selain aset LCC, pihaknya juga berencana mengambil alih lahan di samping SMPN 4 Narmada Desa Dasan Tereng. Lahan itu diduga sudah dikaveling-kaveling. Karena sikap di Pemda saat ini, aset daerah itu harus dikembalikan. Kalau tidak dikembalikan, maka berhadapan dengan Pemda. (her)

Tiitle Ads