Pemotongan Sapi di RPH Menurun Drastis, Pasar Ternak Diminta Dibuka

0
Pastival Rohyadi

Mataram (Suara NTB) – Pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada di Lombok menurun drastisakibat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang ternak di Pulau Lombok.

Ketua Asosiasi Jagal Kota Mataram, Pastival Rohyadi menjelaskan aktivitas pemotongan sapi di RPH menurun hingga 50 persen sejak kasus PMK menyerang Lombok.

“Sekarang pemotongan sapi rata-rata turun, sebelumnya yang memotong 3 sapi turun jadi 1 ekor sapi per hari. Ada RPH yang sebelumnya memotong 8 ekor per hari sekarang hanya 4 ekor. Tentu ini berdampak terhadap pendapatan jagal,” jelas Rohyadi.

Menurunnya jumlah sapi yang dipotong akibat dari ketakutan konsumen mengkonsumsi daging sapi setelah banyaknya kasus PMK di Lombok. Rohyadi menjelaskan perlu upaya dari pemerintah untuk mencegah ketakutan masyarakat tersebut.

“Banyak masyarakat yang tidak mau mengkonsumsi daging sapi walaupun sudah dijelaskan PMK tidak menular ke manusia. Apalagi pasar hewan di kota Mataram ditutup, itu semakin menimbulkan ketakutan,” jelas dia.

Selain itu, penutupan pasar hewan menurut Rohyadi bukan langkah yang tepat, karena berdampak ke banyak pelaku ekonomi yang tidak hanya berbisnis jual beli sapi atau hewan ternak lainnya.

“Menurut kami pasar hewan tidak perlu ditutup, karena yang kasian bukan hanya penjual sapi, tapi juga pedagang – pedagang kecil seperti yang jual nasi, pedagang sandal, tembakau. Ada juga buruh yang menggantungkan hidupnya dari menurunkan maupun menaikkan hewan ternak di pasar hewan,” ujarnya.

Bagi pejagal, penutupan pasar hewan di Pulau Lombok dirasa tak masalah. Kebutuhan sapi potong masing bisa dicari ke kampung – kampung atau ke peternak langsung, tentu kami selektif. Tentu pejagal memilih sapi yang sehat.

“Tapi justru yang terkena dampak langsung pedagang non ternak di pasar hewan. Penjual kopi, penjual nasi, pemegang tali sapi yang hanya mengharapkan Rp25 ribu per sapi yang laku. Kasihan mereka,” kata Rohyadi.

Untuk itu, menurutnya tidak perlu penutupan pasar ternak dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi penularan PMK. Tetap dibuka, dengan protokol PMK.

“Kita punya dokter hewan banyak sekali. Bisa diminta melakukan pengawasan di pasar ternak. Pintu masuknya diperiksa mana sapi yang boleh dimasukkan ke pasar. Dan mana yang tidak. Sehingga aktifitas di pasar ternak juga tidak terganggu,” sarannya.

Wabah PMK yang masih menyebar di NTB ini dikhawatirkan akan mengganggu perayaan hari raya Idul Adha di Lombok, dimana sapi dan kambing banyak dipotong saat hari raya.

“Kala uterus begini kami khawatirkan pasokan sapi untuk Idul Adha terganggu, apalagi waktunya tidak lama lagi. Kami berharap pasar hewan segera dibuka, agar masyarakat tidak begitu khawatir. Dan gencarkan sosialisasi kepada masyarakat, PMK ini tidak berbahaya bagi manusia. Karena peternak sudah panik dan mau jual sapinya. Tapi pembeli daging kurang,” demikian Rohyadi.(bul)