Mataram Bebas dari Ancaman Kekeringan

0
Lahan pertanian di Lingkungan Montong Are, Kelurahan Mandalika, Kota Mataram sedang dialiri air oleh pemiliknya, Minggu, 22 Mei 2022. Meskipun terjadi peralihan musim hujan ke musim kemarau tetapi tidak ada ancaman kekeringan di Kota Mataram. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan Kota Mataram terbebas dari ancaman kekeringan meskipun terjadi peralihan musim dari hujau ke kemarau. Sebagai daerah hilir, suplai air masih tercukupi untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Kepala BPBD Kota Mataram, Mahfuddin Noer dikonfirmasi akhir pekan kemarin mengatakan, prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa sudah terjadi peralihan dari musim penghujan ke kemarau. Pengalaman seperti tahun-tahun sebelumnya, ancaman kekeringan untuk wilayah Kota Mataram sangat kecil. Demikian juga, dengan potensi kebakaran hutan dan kekurangan pasokan air juga jarang terjadi.

Mahfuddin Noer

Kebutuhan air masyarakat maupun pertanian masih mencukupi. “Alhamdulillah, selama ini tidak pernah kita dengar ada kekeringan maupun pasokan air berkurang untuk pertanian,” terangnya.

Berbeda halnya dengan wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur bagian selatan, dan Pulau Sumbawa. Dijelaskan, posisi Mataram yang berada di daerah hilir sehingga pasokan air mencukupi. Kendati demikian, pihaknya tetap mengantisipasi potensi tersebut. Meskipun hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian bahwa potensi areal persawahan yang mengalami kekeringan sangat kecil dan sudah diantisipasi dengan pembangunan sumur bor. “Yang dikhawatirkan itu sebenarnya di kawasan Rembiga atau Lingkar Utara. Tetapi sudah diantisipasi dengan pembangunan sumur bor,” sebutnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Dr. H. Mutawalli mengatakan, perubahan musim hujan ke kemarau tidak terlalu berpengaruh bagi petani di Kota Mataram. Pasalnya, suplai air masih mencukupi bagi petani. Hanya saja, di kawasan Lingkar Utara khususnya di Kelurahan Rembiga dan Selagalas, petani harus berebut air dengan warga yang membudidayakan ikan. “Tetapi sudah kita atasi dengan membuat sumur bor,” ujarnya.

Sumur bor tersebar di sejumlah areal pertanian. Sistemnya satu kelompok dibangunkan sumur bor di beberapa titik, sehingga mempermudah petani untuk mendapatkan suplai air.

Mutawalli menambahkan, pembangunan sumur bor dua tahun terakhir nihil, karena anggaran banyak dialihkan untuk penanganan pandemi corona virus disease atau Covid-19. “Dua tahun terakhir ini sudah tidak ada, karena anggarannya dialihkan untuk Covid-19,” sebutnya. (cem)

Tiitle Ads