Kementan Tolak Ekspor Jagung, Perusahaan Didorong Bangun Industri Pengolahan

0
H. Zulkieflimansyah (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Ekspor jagung nampaknya belum menjadi solusi terhadap melimpahnya hasil panen jagung di Pulau Sumbawa. Kementerian Pertanian (Kementan) juga tak memberikan izin dilakukannya ekspor jagung dari NTB dengan alasan bahwa sejumlah daerah di Indonesia membutuhkan jagung untuk kebutuhan industri.

Gubernur NTB, Dr. H Zulkieflimansyah mengatakan, perusahaan yang membeli jagung petani sebaiknya mulai juga mengolah jagung tersebut di dalam daerah. Artinya proses industrialisasi dari bahan baku jagung harus mulai dilakukan. Sebab jika hanya dilakukan aktivitas jual beli bahan baku, petani tidak akan mendapat untung yang sesuai harapan.

“PT. Seger jangan hanya trader saja, namun harus mau dan mampu mengelola jagung itu di sini. Karena kalau tidak dikelola dan hanya trader, selalu yang jadi korban adalah petani,” kata Gubernur akhir pekan kemarin.

Awalnya Gubernur menginginkan dilakukannya ekspor jagung karena menumpuknya hasil panen petani dan harganya menjadi jatuh. Namun pemerintah pusat memiliki pertimbangan lain sehingga kegiatan ekspor belum menjadi pilihan.

“Sebenarnya saya yang berat hati kalau jagung diekspor, namun idealisme kadang-kadang harus berdamai dengan keadaan masyarakat. Kementan akhirnya melarang kegiatan ekspor karena menurut Kementerian, jangan sampai kita ekspor, namun di sini kebutuhan jagung masih diperlukan,” katanya.

Gubernur mengaku, bahan baku jagung yang melimpah ke depannya harus mampu diolah di dalam daerah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi baru kemudian diekspor. Proses industrialisasi ini menjadi hal yang mendapat atensi serius dari Pemprov NTB. Karena itu, dia mendorong perusahaan untuk ikut andil dalam industrialisasi di NTB.

“Kalau tidak ada industrialisasi, bahan baku jagung tidak diolah di sini, maka tiap tahun kita akan mengalami masalah yang sama. Misalnya harga jagung turun, harga gabah tidak terkendali, harga tembakau turun dan sejumlah komoditas lainnya. Kondisi tersebut merugikan petani,” ujarnya.

Karena memahami kondisi tersebut, Pemprov NTB melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) sudah mulai mengembangkan pabrik pakan dengan menggandeng investor luar daerah. Pabrik pakan yang terletak di kawasan BRIDA ini menjadi embrio yang menyemangati daerah dan masyarakat. Meskipun demikian, ia mengakui industrialisasi tidak akan langsung menyelesaikan masalah. Bahkan sering muncul persoalan di dalam proses untuk memulainya.

“Apakah tidak sedih, kita jual jagung ke Sulawesi, kemudian diolah sedikit menjadi pakan, selanjutnya kita beli dengan harga yang lebih tinggi. Akhirnya peternak kita yang teriak- teriak. Kalau pabrik pakan tidak ada di NTB, maka peternakan sapi, ikan, ayam segala macam tidak akan maju-maju, karena pakannya lebih mahal daripada harga panennya,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. Muhammad Riadi telah bertemu dengan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI dan Jajarannya di Jakarta pekan kemarin. Dari hasil diskusi bahwa ekspor tidak jadi pilihan Kementan, sebab jagung masih dibutuhkan di Pulau Sumatera dan Jawa. Nantinya jagung di Pulau Sumbawa akan diserap oleh PT. DNA dengan harga di atas Rp 4000 dan gudang penyimpanan sudah disiapkan di Kecamatan Woja dan Pekat, Kabupaten Dompu.(ris)

Tiitle Ads