Biaya Ekspedisi Melambung, Pengusaha Jagung di Lotim Merugi

0
Ribuan ton jagung tidak bisa dikirim karena biaya eskpedisi dinilai terlalu  mahal. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Biaya ekspedisi pengiriman jagung ke luar daerah mengalami kenaikan tiga kali lipat. Pada bulan Maret lalu biaya sekali kirim Rp 150 ribu per ton. Sekarang ini melonjak menjadi Rp 450 ribu per ton. Sekali kirim dengan dengan angkutan 1 fuso kapasitas 25 ton. Kondisi ini jelas membuat pengusaha jagung merugi.

‘’Potensi kerugian Rp 3,5 miliar jika dikirim pada harga saat ini,’’ ujar pengusaha jagung asal Desa Sekaroh, Mansur yang juga Kepala Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur.

Selain biaya melonjak, ekspedisi ini juga langka. Saat ini, sekitar 3.000 ton jagung pipilan kering yang terpaksa belum dikirim.  ‘’Kita tunggu harga naik dan ongkos ekspedisi turun kembali,’’ ujar Mansur.

Mahalnya biaya eskpedisi ini jelas membuat harga beli jagung di tingkat petani berpengaruh besar. Sebelumnya, pengusaha bisa membeli jagung seharga Rp 5 ribu  sampai dengan Rp 5,300 per Kg pipil kering. Saat ini harganya merosot ke Rp 4.100 per Kg.

Karena pengaruhnya besar, diharapkan ekspedisi segera turun dan harga jagung segera naik. ‘’Kita berharap Pemkab Lotim dan Pemprov NTB  segera menormalkan harga jagung dan ekspedisi ini,’’ harapnya.

Biji jagung yang terlalu lama disimpan  dikhawatirkan akan jamuran dan berkecambah. Apalagi saat terkena air hujan. “Kalau kena air hujan, basah maka jagung berjamur dan berkecambah. Kalau begitu sudah tidak bisa dijual,’’ ujarnya.

Musim jagung tahun ini di kawasan Sekaroh dinilai kurang menguntungkan. Musim tanam tahun lalu dinilai jauh lebih baik. Menurut Mansur, lebih berhasil petani pada tahun lalu. Disamping lebih bagus hasil panennya, penjualan tahun lalu lebih menguntungkan.

Sementara saat ini, biaya produksi lebih mahal. Harga jual tidak sesuai dengan harga obat-obatan dan pupuk. Dimana, pupuk yang digunakan petani sebagian besar merupakan non subsidi.

Kawasan Sekaroh setiap tahunnya disebut merupakan wilayah penghasil jagung yang cukup besar. Ribuan ton jagung hasil panen petani. Musim panen tahun ini, jagung petani dipastikan benar-benar dalam kondisi sangat kering. Hal ini dilakukan supaya tidak lelah menjemur. Kadar airnya 17-15 persen. “Jadi setelah panen langsung digiling,” demikian ucapnya. (rus)

Tiitle Ads