Warga Penatoi Sulap Selokan Sampah Jadi Kolam Budidaya Nila

0
Kondisi kolam ikan dari selokan sampah yang disulap warga Kota Bima.(Suara NTB/Uki)

Kota Bima (Suara NTB) – Aksi warga Penatoi Kecamatan Raba Kota Bima patut dicontoh oleh warga lainnya. Pasalnya, mereka berhasil menyulap selokan kotor dan kumuh yang dijadikan tempat pembuangan sampah menjadi kolam budidaya ikan nila.

Yang membanggakan lagi, mereka dari kalangan muda dan tua urunan atau patungan uang untuk membeli bibit ikan nila yang ditabur dalam kolam yang berada di area perkampungan padat penduduk tersebut.

Warga Penato’i yang juga Ketua RT 03, Darussalam mengaku, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi warga Penato’i memanfaatkan selokan sebagai tempat budidaya ikan nila. Salah satunya, kurang lebih 30 tahun menjadi tempat pembuangan sampah yang sangat masif.

“Munculnya ide membuat kolam ikan ini karena prihatin melihat kondisi selokan menjadi pembuangan sampah yang sudah berlangsung hampir puluhan tahun,” ujarnya, Jumat, 20 Mei 2022.

Berbagai upaya telah dilakukan, baik Pemerintah maupun warga, tapi hasilnya tetap nihil dan selokan tetap menjadi tempat pembuangan sampah. Padahal dulu lanjut dia, selokan tersebut menjadi titik kumpul warga setempat, baik digunakan untuk pemandian atau untuk perjumpaan warga.

“Namun belakangan berubah menjadi kumuh, kotor dan bau akibat sampah yang menumpuk disepanjang selokan. Hal itu terjadi karena cukup lama selokan tidak difungsikan. Logisnya sesuatu kalo tidak difungsikan pasti akan kotor,” ujarnya.

Berangkat dari hal tersebut, kata dia gagasan memanfaatkan selokan sebagai tempat budidaya dilakukan. Hasilnya dalam waktu satu minggu selokan menjadi bebas sampah karena berubah menjadi puluhan kolam budidaya ikan.

Selain itu faktor lainnya, kata dia, yakni kondisi ekonomi warga penatoi yang semakin memprihatinkan akibat sulitnya akses ekonomi. Ia mengaku selokan merupakan potensi yang sangat besar, sehimgga dimanfaatkan sebagai sumber produksi ikan.

“Selain untuk ketahanan pangan warga, sumber ekonomi baru juga dalam rangka memprosuksi keindahan disepanjang selokan,” ujarnya.

Faktor lainnya, lanjut dia, karena eksklusifitas yang terjadi sebagian warga Penatoi menyebabkan terjadinya disharmoni. Hal itu tidak luput tidak adanya satu ruang atau aktifitas yang menyebabkan terjadinya interaksi sosial yang melibatkan banyak orang.

“Pemilihan budidaya ikan nila ini ebagai instrument kegiatan untuk membangun kembali interaksi sosial diantara warga,” ujarnya.

Darussalam menambahkan selama ini kerap mendengar stigma soal rendahnya kesadaran warga akan kebersihan lingkungan atau perlu ada perubahan perilaku warga dalam soal kebersihan lingkungan.

“Selalu yang menjadi kambing hitam adalah warga, seolah olah wargalah yang secara mutlak bersalah dalam soal kotor, kumuh dan soal sampah dalam hal ini selokan,” ujarnya.

Padahal substantif bahwa yang perlu berubah itu sesungguhnya adalah pemerintah yang kerap mengkambinghitamkan kesadaran warga dan prilaku warga dalam soal menjaga lingkungan. Yang perlu dievaluasi adalah pemerintah itu karena gagal memberikan satu teladan serta gamang menyadari bahwa salah satu penyebab.

“Selain itu minimnya terobosan pemerintah dalam menangani persoalan sampah di selokan bahkan di hampir semua selokan yang ada di Kota Bima,” pungkasnya. (uki)