Kekurangan Obat-obatan, Ternak Terjangkit PMK di Loteng Naik Dua Kali Lipat

0
Ternak sapi di Desa Kelebuh menjalani karantina kandang, setelah dideteksi terjangkit PMK.(Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) menjadi salah satu daerah yang paling parah penyebaran Penyakit Mulu dan Kuku (PMK) pada ternak. Hingga Kamis, 19 Mei 2022, jumlah ternak sapi yang terjangkit PMK di Loteng sudah mencapai 608 ekor. Jumlah tersebut naik hampir dua kali lipat pada fase awal penyebaran penyakit ternak yang diakibatkan oleh virus tersebut, diangka 363 ekor.

Pemkab Loteng sendiri sampai sejauh ini masih kesulitan untuk melakukan pengobatan terhadap ternak yang terjangit, menyusul belum datangnya bantuan obat-obatan dari pemerintah. Sementara tingkat serangnya kian meluas. Dari sebelumnya hanya di lima desa, sekarang sudah di tujuh desa. Yakni Desa Kelebuh, Nyerot, Barejulat, Sukarara, Puyung dan Sukaraja. Di tiga kecamatan terdampak, Praya Tengah, Jonggat serta Praya Timur. Ditambah Kecamatan Praya Barat di Desa Banyu Urip.

“Untuk obat-obatan baru Desa Kelebuh saja yang sudah dapat bantuan. Kalau (desa) yang lain masih menunggu,” sebut Kepala Dinas Pertanian Loteng, Taufikurrahman PN., kepada Suara NTB, Jumat (20/5) kemarin.

Bantuan obat-obatan bagi Desa Kelebuh diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc., saat meninjau kandang komplek ternak sapi di Desa Kelebuh Kecamatan Praya Tengah. Dan, diterima langsung oleh peternak desa setempat.

Sebelumnya, dijelaskan, Desa Kelebuh diduga sebagai lokasi awal munculnya kasus PMK. Penyebarananya pun cukup cepat. Dari 12 dusun yang ada di Desa Kelebuh, hanya satu dusun yang masih bebas PMK. Karena memang diawal kemunculan kasus tersebut, lalu lintas ternak tidak begitu ketat diawasi. Sehingga PMK bisa dengan cepat menyebar.

Guna mengatasi persoalan keterbatasan obat, pihaknya sudah berkomunikasi dengan para peternak, perangkat desa serta aparat di desa lainnya, bahwa untuk penyediaan obat-obatan dilakukan secara urunan. Pemerintah nantinya menyiapkan tenaga serta pelayanan pengobatan secara gratis. Karena memang ternak yang sakit harus segera diobati. Sementara kalau menunggu kiriman obat dari pemerintah pusat, butuh waktu.

Dinas Pertanian sendiri sebut Arman tidak menyiapkan obat PMK. Karena penyakit tersebut terakhir muncul 30 tahun yang lalu. Sehingga memang tidak ada perencanaan untuk penyediaan obat PMK. “Kemunculan penyakit ini memang tidak pernah diduga. Jadi ada rencana untuk penyiapan obat-obatanya,” ujarnya seraya menambah untuk tingkat kesembuhan sudah mencapai 187 ekor. (kir)

Tiitle Ads