JCH Mataram Ikuti Manasik Haji

0
Para jemaah calon haji Kota Mataram mengikuti pembukaan manasik haji yang digelar Pemkot Mataram di aula Kantor Walikota Mataram, Jumat, 20 Mei 2022. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah 401 jemaah calon haji (JCH) Kota Mataram mengikuti manasik haji gratis. Jemaah diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman secara teoritis, melainkan bisa memahani tata cara pelaksanaan ibadah haji secara langsung.

Ketua Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI) Kota Mataram, Prof. H. M. Tajuddin menyebutkan, sejumalh 401 JCH yang mengikuti manasik haji adalah orang-orang pilihan yang dipanggil oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah di Tanah Suci Mekkah. Para jemaah diharapkan melaksanakan visi terakhir Walikota dan Wakil Walikota Mataram yakni mandiri. Mandiri dimaksud adalah pasca pelaksanaan manasik haji selama delapan hari, agar bisa belajar dan menggali informasi secara mandiri sebelum berangkat menunaikan ibadah.

“Manasik haji tahun ini kita memadukan antara teori dengan praktik.  Para pemateri yang dilibatkan dari akademisi dan tuan guru,” kata Tajuddin. Pihaknya berupaya memvisualisasikan tata cara pelaksanaan ibadah haji dan lain sebagainya. Jemaah akan praktik secara langsung, di mana Islamic Center di Cakranegara akan dijadikan Muzdalifah dan Asrama Haji di Loang Baloq dijadikan Mekkah dan Mina. Tajuddin berpesan agar para jemaah menjaga nama baik Kota Mataram dan negara saat melaksanakan ibadah.

Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana bersyukur masyarakat bisa menunaikan ibadah haji setelah dua tahun Pemerintah Arab Saudi meniadakan karena alasan pandemi Covid-19. Dari penantian panjang ini terkonfirmasi 401 jemaah akan diberangkatkan melaksanakan ibadah ke Tanah Suci Mekkah. “Alhamdulillah, kuota yang didapatkan Kota Mataram lebih banyak dibandingkan kabupaten/kota di NTB,” sebut Walikota.

Pelaksanaan manasik haji diharapkan tidak dijadikan beban, melainkan sebagai instrumen atau wadah untuk mendapatkan informasi administrasi, tata cara, dan lain sebagainya. Pasalnya, ada hal-hal spesifik yang perlu ditanyakan secara teknis di luar pelaksanaan tata cara ibadah haji, terutama kebutuhan aktivitas selama di dalam pesawat. “Apalagi di Mekkah sudah bertransformasi digital. Mau tidak mau jemaah harus beradaptasi,” ucapnya.

Mohan berpesan para jemaah tetap solid dan kompak menjaga ukhuwah Islamiyah selama melaksanakan ibadah. Di satu sisi, ia memahami tidak banyak masyarakat memiliki kesempatan menunaikan ibadah tersebut, apalagi Pemerintah Arab Saudi membatasi usia para jemaah. “Kita bersyukur bapak-bapak dan ibu-ibu bisa melaksanakan ibadah haji, karena banyak orang yang memiliki kemampuan ekonomi dan fisik tetapi belum ada niat untuk melaksanakan ibadah haji,” demikian kata dia. (cem)

Tiitle Ads