91 Kelompok Telah Dibantu Rehabilitasi Jaringan Irigasi

0
Tresnahadi. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Dalam kurun 3 tahun (2019-2021), jumlah kelompok tani yang mendapat intervensi rehabilitasi jaringan irigasi sebanyak 91 kelompok. Terdiri dari 72 kelompok dibantu jaringan irigasi tersier, 7 kelompok dibantu irigasi perpompaan, dan 12 kelompok mendapat bantuan embung. Bantuan tersebut bersumber dari Kementerian Pertanian.

“Ada juga bantuan optimasi lahan kering yang baru mulai diprogramkan. Tahun ini sudah direncanakan untuk 1.000 ha dan baru dilaksanakan 200 ha,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, S.Pt., Jumat, 20 Mei 2022.

Ia menjelaskan, di sektor pertanian, air menjadi kebutuhan mendasar yang tak boleh terganggu sama sekali. Tanpa pasokan air yang cukup, mustahil petani dapat mengembangkan budidaya Pertanian, Peternakan dan Perikanan. Oleh karenanya, jaringan irigasi, embung dan optimasi lahan menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan ketersediaan air.

Pada prinsipnya, sambung dia, irigasi merupakan usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang usaha pertanian secara umum. Meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan.

“Jaringan irigasi merupakan faktor penting dalam proses usaha tani yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan luas areal tanam,” imbuhnya.

Pihaknya juga mulai mengusulkan dukungan anggaran untuk optimasi lahan kering di KLU. Program ini bertujuan untuk memaksimalkan setiap lahan kering dengan cara memaksimalkan penggunaan air secara efektif dan efisien, sehingga dapat menjadi lahan usaha tani yang lebih produktif.

Untuk tahun 2022 ini, bantuan rehabilitasi jaringan yang disalurkan meliputi Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) kepada 15 Kelompok Tani dengan nilai total Rp1,125 miliar,  Pembangunan Embung Pertanian kepada 2 Kelompok Tani senilai total Rp240 juta, Irigasi Perpompaan Besar kepada 1 Kelompok Tani dengan nilai Rp119 juta, serta Optimasi Lahan Kering (Oplah) seluas 200 hektar kepada 8 Kelompok Tani dengan total anggaran Rp1,137 miliar.

“Sehingga total bantuan yang dikelolakan secara swadaya senilai total Rp2,621 miliar,” kata Tresnahadi.

Bantuan ini diharapkan dapat memecahkan masalah kekurangan ketersediaan air yang dibutuhkan dalam usaha tani. Petani/kelompok tani tentu diharapkan juga bisa merawat bantuan yang sudah dimiliki. Bantuan yang tidak dirawat cenderung akan lebih cepat rusak. “Bantuan yang ada juga harus digunakan seoptimal mungkin. Jangan sampai tidak terpakai yang akhirnya rusak,’’ pesannya. (ari)

Tiitle Ads