Vani dan Sakhi, Dua Bocah SD Pendaki Gunung Rinjani

0
Vani Aisha Putri (12) dan Ahmad Ghalyb Bahtiar Sakhi (7), dua kakak beradik ditemani sang ayah saat berfoto di puncak gunung Rinjani. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) –Bagi orang dewasa, mendaki gunung adalah hal biasa. Itupun sebagian orang dewasa yang berani mendaki gunung. Namun yang luar biasa dan menakjubkan, jika yang mendaki adalah anak-anak masih bocah sekolah dasar (SD). Apalagi yang didaki, gunung Rinjani. Gunung yang masuk Seven Summit Indonesia (gunung merapi tertinggi kedua di Indonesia). Adalah Vani Aisha Putri (12) dan Ahmad Ghalyb Bahtiar Sakhi (7), dua kakak beradik yang mampu mendaki hingga puncak gunung Rinjani.

Ahmad Ghalyb Bahtiar Sakhi tercatat sebagai siswa kelas I di SDIT Insan Mulia Kediri dan kakaknya Vani Aisha Putri duduk di kelas VI SDN 1 Kuripan. Keberanian dua bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) asal Lombok Barat ini patut diacungi jempol.

Dua bocah kakak beradik, berdomisili di Kuripan ini berani dan mampu menaklukkan gunung Rinjani. Kedua bocah, anak dari pasangan Iwan Kusmayadi AS dan Nyimas Sofiah Ahdayani tersebut mendaki hingga puncak gunung tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 MDPL tersebut.

Bahkan, Vani panggilan akrab bocah kelas VI SD 1 Kuripan tersebut sudah ketiga kali mendaki Rinjani. Sedangkan untuk adiknya, Sakhi kali pertama mendaki. Meskipun masih duduk di kelas I SD, bocah tujuh tahun itu mampu menaklukkan Rinjani. Iwan Kusmayadi AS, orang tua dari dua bocah itu menuturkan kalau dua buah hatinya mendaki Rinjani atas kemauan sendiri dan karena hobi mendaki. Itu berawal dari mereka melihat kakaknya beberapa kali mendaki.

“Jadi dua anak saya mendaki atas kemauan sendiri, karena melihat kakaknya dulu sering mendaki. Dan dia juga ingin ikut mendaki,”tutur Iwan sapaan akrab kepala UPT BLUD puskesmas Jakem ini, Kamis (19/5). Setiap lihat gunung, kadang-kadang keduanya menagih janjinya untuk mendaki.

Akhirnya ia sebagai orang tua pun mengambulkan keinginan buah hatinya. Pada hari Jumat (13/5) lalu, ia mendaki bersama dua anaknya dan 12 anggota keluarganya. Ia menyiapkan segala keperluan, mulai dari obat-obatan, makanan, perlengkapan kemah dan kelengkapan administrasi KTP, surat keterangan sehat.

Awalnya dari rencana menginap selama 3 malam, namun karena cuaca hujan waktu menginap pun bertambah.Ia dan anak-anak serta rombongan berangkat Jumat pagi. Kemudian mulai berangkat mendaki dari jalur Sembalun. Karana cuaca kurang bersahabat, ia dan dan anak-anaknya membuat camp di pos 3, pagi harinya melanjutkan perjalanan ke Pelawangan.

Malam Minggu (15/5) sekitar pukul 01.00, rombongannya muncak (mendaki). Ia dan anak-anaknya mencapai puncak pukul 07.00 pagi. Butuh waktu enam jam di perjalanan hingga capai puncak.

“Sampai puncak gunung Rinjani, saya dan anak-anak foto-foto, terus turun, sampai bawah (Pelawangan) jam 11.30. Kita makan siang, langsung packaging. Bongkar tenda, langsung berangkat ke danau Segara Anak,” tutur dia

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke danau Segara anak. Rombongan tiba di danau, sekitar pukul 06.00 sore. Di danau rombongannya bermalam satu malam. Kemudian pagi harinya bertangkat pulang hari Senin (16/5). Ia pulang melalui jalur Torean. Berangkat pukul 10.00 pagi.

Ia dan anak-anaknya baru kali pertama pulang lewat jalur ini. Jalur ini memiliki pemandangan indah dan cukup menantang melewati hutan.Karana jarak tempuh lumayan jauh, sehingga butuh waktu tengah malam baru tiba di bawah. “Butuh waktu 3 hari mendaki,”kata dia.

Selama mendaki jelas dia, rombongan melewati jalur terjal, padang Savana, medan berpasir. Namun anak-anaknya mendaki dengan enjoy. Mereka menikmati pendakian. Bahkan ketika hujan pun, mereka tak pernah mau digendong. Anaknya yang paling kecil, usia 7 tahun baru digendong ketika hendak mencapai puncak. Karena medannya berpasir, sehingga melangkah pun menjadi lambat.

“Kalau kakaknya yang usia 12 tahun duluan jalan, hingga ke puncak,” ujarnya. “Begitupula saat menginap di tenda, anak-anaknya tidak pernah mengeluh. “Mereka enjoy,” ujarnya.

Menurut dia, dari hobi mendaki ini ia selaku orang tua mendapatkan banyak hal positif yang diperolehnya. Bagi anak-anak, mereka tahu bagiamana perjalanan mendaki, ada rasa kecintaan terhadap alam, tahu bagiamana segala sesuatu butuh bekerjasama dan kekompakan. Disamping perlu kegigihan. Rencananya ia dan anak-anak akan mendaki lagi ke gunung kerinci. Sedangkan di sekolah sendiri, kedua anaknya aktif di ekstrakurikuler. Dari sisi akademik, anak-anaknya biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol. (Her)

Tiitle Ads