Pasar Terbuka Lebar, Dubes Iqbal Berharap NTB Garap Industri Olahan Kelapa

0
Lalu Iqbal.

Mataram (Suara NTB) – Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Turki, Dr.Lalu Muhammad Iqbal mendorong pemerintah daerah, dari tingkat provinsi, hingga kabupaten/kota di NTB melakukan pengolahan kelapa. Dubes Turki kelahiran Lombok Tengah ini menyatakan kesiapannya membukakan jaringan pasar di negara dua benua itu.

Lalu Iqbal membayangkan, ada pengolahan kelapa (hilirisasi) di NTB.  ‘’Jika itu dilakukan secara massif, nilai ekonomisnya sangat besar. Apalagi jika diekspor,’’ ujarnya kepada Suara NTB, Rabu, 18 Mei 2022. Karena itu, Lalu Iqbal menitipkan pesan kepada pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi kelapa yang cukup besar di NTB.

Ia mencontohkan, salah satu perajin ketak di Kabupaten Lombok Tengah hingga saat ini masih mengekspor ketak. Bekerja sama dengan salah satu buyer di Turki. ‘’Salah satu perusahaan furniture di Lombok Tengah, intens mengirim ke salah satu perusahaan furniture di Turki, yang salah satu aksesorisnya memakai ketak. Yang tadinya memakai produk lain, sekarang sudah memakai ketak,” terangnya.

Pemerintah Indonesia yang diwakilinya di Turki menurutnya punya tanggung jawab untuk mempromosikan segala sesuatu yang ada di Indonesia, tanpa terkecuali yang dimiliki NTB. Dengan Provinsi NTB, Lalu Iqbal tentu memiliki tanggung jawab emosional untuk membantu memfasilitasi dan mengenalkan kemudian mempromosikan apapun yang ada di NTB. Untuk itu, salah satu potensi besar yang diharapkannya adalah kelapa.

Mengapa masyarakat di NTB senang sekali menjual kelapa dalam bentuk mentah ke daerah lain. Sementara daerah lain yang mengambil manfaatnya, melakukan pengolahan dan menjualnya kembali dengan harga yang cukup tinggi.

“Masyarakat kita masih senang menjual dalam bentuk mentah. Dan menerima uang langsung. Padahal kalau diolah, besar sekali yang didapatnya. Tapi peraturan pemerintah sekarang masih membolehkan mengirim keluar daerah dalam bentuk mentah, bahkan ekspor kelapa mentah. Ini sangat merugikan sekali,” katanya.

Padahal, bila dibuat industri terintegrasi pengolahan kelapa, yang teknologinya  sangat sederhana, itu bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi.

‘’Kelapa dari Lombok dikirim ke Jawa. Di sana dipecah, fibernya dijadikan produk sendiri, daging kelapa jadi produk sendiri. Dan batoknya bisa dipakai buat arang. Nilai tambahnya sudah berkali kali lipat. Tapi sayangnya petani kita tidak dapatkan nilai tambah itu,’’ imbuhnya.

Jika industrialisasi kelapa bisa dilakukan di NTB, pasarnya cukup tinggi di Turki. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada satu suplayer besar di NTB yang bisa menghasilkan kualitas produk turunan yang memenuhi standar pasar internasional.

‘’ Ke dua, yang punya kemampuan untuk kontrak jangka panjang, jaminan suplainya belum ada. Karena yang membutuhkan di sana industri besar, jadi mereka butuh jaminan suplai. Kalau tidak kontinu suplainya, itu akan sangat merugikan mereka (investor di Turki),’’ ujarnya.

Cocopeat dijadikannya sebagai media tanam, campuran bahan untuk membuat jok mobil-mobil mewah. Dan lain – lainnya bisa dibuat jadi aneka hasil industri turunan.

Mengingat pasar internasional yang cukup terbuka, menurut Lalu Iqbal, Pemerintah Daerah harus ambil alih peluang ini. Mengingat kecendrungan masyarakat yang masih berorientasi pada hasil cepat (mendapat uang dengan cepat).

‘’Pemerintah melaui BUMD bisa jadi offtaker produk-produk ini. Kemudian melakukan pengolahan di sini, semua elemen kelapa dipisahkan. Saya sudah ketemu dengan beberapa pengusaha di Turki, kita siap jembatani pasarnya di sana,’’ demikian Lalu Iqbal.(bul)

Tiitle Ads