Hampir 2000 Ternak Sapi Terinfeksi PMK di NTB, Angka Kesembuhan Meningkat

0
Peternak di DusunBagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Kecamatan Lingsar sedang memindahkan sapi ke kandang lain. Mereka memberikan perawatan pada sapi agar terhindar dari penyakit ternak. (Suara NTB/ham)

Mataram (Suara NTB) – Sejak ditemukannya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Pulau Lombok bulan Mei ini, jumlah ternak yang terinfeksi virus ini terus bertambah. Dari awalnya seratusan kasus, kini bertambah menjadi ribuan kasus. Namun kabar baiknya, penyakit ini cukup gampang disembuhkan. Terbukti dengan sembuhnya ratusan sapi yang telah positif PMK.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB drh. Khairul Akbar, M.Si mengatakan, kasus PMK di Provinsi NTB secara resmi hanya ditemukan di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur berdasarkan pengujian sampel kasus oleh Balai Besar Veteriner Denpasar.

Khairul Akbar (Suara NTB/ris)

“Total ada 1.988 ekor sapi yang terinfeksi, sekitar 50 persen sembuh. Saat ini ada 1.433 ekor yang masih terinfeksi. Ini penyakit yang bisa sembuh. Yang mati ada 18 ekor dengan cara potong paksa. Karena setelah pengobatan belum bisa bangun juga, maka dipotong,’’ ujar Khairul Akbar kepada Suara NTB, Rabu, 18 Mei 2022.

Namun berdasarkan, data dari Crisis Center PMK di lapangan, ada 170 ekor sapi di Lombok Barat yang sudah menunjukkan gejala mirip PMK ini. Dengan adanya temuan ini, telah dilakukan pengambilan sampel darah dan ingus untuk selanjutnya dilakukan penelitian di Balai Besar Veteriner Denpasar.

Ia mengatakan, penyakit mulut dan kuku ditandai dengan keluarnya ingus di mulut dan melepuh di bagian kaki ternak. Penyakit ini sebenarnya sudah dinyatakan bebas tahun 1986 silam, namun penyakit ini muncul kembali dengan didahului oleh penemuan kasus di Jatim dan Aceh. Terhadap kasus yang terjadi di NTB, pihaknya terus melakukan pengobatan dan vitamin untuk mencegah ternak yang mati akibat PMK ini.

 “Kami lakukan pengobatan. Memang penyakit ini jenis penyakit yang bisa sembuh dan bisa sembuh dengan obat-obat tertentu ya, dikasi juga vitamin dan untuk mengurangi gejala sakitnya,” jelas Khairul Akbar.

Agar tidak menyebar ke daerah lain, Disnakeswan NTB melakukan lokalisir atau isolasi ternak yang sudah terinfeksi virus ini sambil dilakukan pengobatan. Karena muncul temuan kasus PMK di NTB, pemerintah pusat ikut turun tangan dengan memberikan bantuan dan pihak swasta juga ikut memberikan bantuan ke NTB.

“Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia juga memberikan bantuan obat, juga pihak swasta memberikan obat,” katanya.

Untuk mencegah virus ini tidak meluas, Disnakeswan telah bersurat kepada Dinas Peternakan Kabupaten/Kota di NTB untuk melakukan sejumlah kebijakan. Misalnya menyetop masuknya atau keluarnya ternak dari Pulau Lombok. ‘’Tidak ada pemasaran sapi dari Pulau Lombok sejak dinyatakan sebagai daerah wabah PMK bulan Mei ini sampai batas waktu yang belum ditentukan,’’ katanya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu panik, karena PMK ini tidak menular kepada manusia. Karena itulah daging sapi yang terinfeksi PMK bisa dikonsumi oleh masyarakat. Berbeda halnya dengan penyakit anthraks dan rabies yang menyerang ternak yang memang berbahaya bagi manusia. (ris)

Tiitle Ads