Tak Ada Penyakit Mulut dan Kuku pada Ternak di Mataram

0
Sejumlah pedagang mengikat sapi miliknya di Pasar Hewan Selagalas, pekan kemarin. Penyakit mulut dan kuku tidak ditemukan di Mataram.  Pasar hewan akan ditutup sebagai antisipasi penyebaran. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pertanian turun mengecek hewan ternak di Kota Mataram. Namun, tidak ditemukan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi. Pasar hewan akan ditutup untuk memutus mata rantai penularan penyakit.

Kepala Bidang Peternak pada Dinas Pertanian Kota Mataram, drh. Dijan Riyatmoko mengaku, belum ada laporan maupun temuan penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak. Penyakit ini menyerang sapi, kerbau, domba, dan babi. Penyakit ini menular pada hewan dan tidak menular pada manusia.

Kendati demikian, pihaknya tetap mengkhawatirkan penularan pada proses pemotongan sapi supaya tidak digabungkan bersama hewan ternak lainnya, karena darahnya dikhawatirkan sebagai sumber penularan. Rumah potong hewan (RPH) akan dijaga dan sapi yang terjangkit PMK dipotong secara terpisah “Masih nihil dan belum ada laporan,” kata Dijan dikonfirmasi pekan kemarin.

Rencananya pasar hewan akan ditutup sementara. Kebijakan ini masih menunggu instruksi Gubernur, karena berisiko tinggi pada penularan. Langkah selanjutnya yakni vaksinasi. Vaksinasi ternak juga menunggu kebijakan dari pemerintah pusat, karena vaksin telah diproduksi dalam negeri. Ciri-ciri sapi yang terkena PMK seperti keluar busa, air liur banyak keluar dari sapi, lidah melepuh, gusi, dan gigi berdarah. Sementara, bagian pergelangan kaki luka. “Vaksinasi masih menunggu kebijakan pemerintah pusat,” tandasnya.

Selain itu, Kota Mataram tidak boleh memasukkan hewan ternak apapun dari Jawa Timur, termasuk mendatangkan sapi dari Pulau Sumbawa. Adapun sapi-sapi dari Sumbawa yang telah masuk akan disisir kembali. Pihaknya ingin memastikan tidak ada sapi yang terjangkit PMK.

Adapun hewan ternak yang terjangkit PMK nantinya akan diisolasi, kadang disemprot, dan diberikan obat-obatan. “Pengangkutan daging sapi beku juga tidak boleh melewati Jawa Timur. Kendaraan pengangkutan dari Jakarta masuk ke Tanjung Priok dan langsung ke Lembar. Kita khawatir roda truk menempel virus,” ucapnya. (cem)