Pertama Sejak 30 Tahun, Sementara, 150 Ekor Sapi Terjangkit PMK di Loteng

0
Ilustrasi ternak sapi. (Suara NTB/dok)

Praya (Suara NTB) – Puluhan ternak sapi yang sebelumnya ditemukan sakit di Desa Kelebuh Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah (Loteng) didiagnosa menderita Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK. Hal itu diketahui setelah Balai Besar Veteriner Denpasar, Bali melakukan uji laboratorium. Dari tujuh sampel yang diambil, enam sampel dinyatakan positif PMK. Satu sampel lainnya dinyatakan negatif.

PMK disebabkan oleh virus dan serangannya kini semakin meluas di Loteng, sejak lapornya masuk akhir pekan kemarin. Tidak hanya di Desa Kelebuh, ada juga ditemukan di Desa Puyung dan Barejulat Kecamatan Jonggat dengan jumlah ternak sapi yang terjangkit PMK sudah menyentuh angka 150 ekor dari sebelumnya hanya sekitar 67 ekor.

Namun sejauh ini belum ada laporan ternak yang mati karena penyakit tersebut. Temuan kasus PMK pada ternak tersebut menjadi yang pertama sejak 30 tahun silam. “Loteng pada tahun 1986 lalu, sudah dinyatakan bebas PMK. Dan, baru tahun ini kasus PMK kembali muncul di Loteng,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Loteng, Taufikurrahman PN., kepada wartawan, di kantor Bupati Loteng, Kamis, 12 Mei 2022.

PMK merupakan penyakit pada hewan yang banyak ditemukan pada ternak berkuku belah. Seperti sapi, kerbau, kuda, kambing hingga babi. Penyakit tersebut bisa dikatakan tidak begitu menimbulkan dampak berat terhadap ternak, seperti kematian. Namun tingkat penyebarannya yang cepat.

Tapi jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat bisa berdampak parah. Di mana bagi ternak yang tengah bunting, bisa mengalami keguguran. Ternak juga bisa mati, karena penyakit tersebut berdampak pada menurunnya nafsu makan dari ternak tersebut.

“Ternak yang terjangkit PMK, angka kesembuhannya sangat tinggi. Tapi penyebarannya yang sangat cepat. Sehingga warga, utamanya yang memiliki ternak diminta untuk lebih waspada,” sebutnya. Penyebaran PMK sendiri bisa antar hewan ternak tersebut atau dengan perantara manusia.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus PMK yang lebih luas lagi ternak yang masih sehat, Pemda Loteng sudah memberlakukan karantina lokal. Dengan melarang warga untuk kontak langsung dengan ternak yang sakit.

Ternak-ternak yang sakit ataupun yang terlihat sehat, juga dilarang untuk dibawa ke luar kandang. Apalagi sampai keluar wilayah, karena walaupun terlihat sehat, belum ada jaminan ternak tersebut bebas dari virus PMK. “Di area kandang tempat ditemukan kasus PMK juga sudah dilakukan penyemprotan desinfektan. Ternak-ternak yang sakit juga sudah diobati dan yang sehat diberikan vaksin, untuk meningkatkan imunitas ternak tersebut,” imbuhnya.

Upaya antisipasi lebih luas lagi, mulai Sabtu, 14 Mei 2022, pihaknya akan menutup pasar hewan yang ada di daerah ini selama tiga minggu. Hal ini untuk meminimalisir potensi penyebaran virus PMK pada ternak tersebut sembari melakukan langkah penanganan terhadap hewan ternak yang sakit maupun yang bergejala.

“Sampai kondisi penyebaran virus PMK bisa dikendalikan, kita akan tutup aktivitas pasar hewan yang ada di daerah ini selama tinggi minggu. Kebijakan ini kemungkinan juga akan diikuti di semua pasar oleh pemerintah provinsi,” terangnya. Karena tidak hanya di Loteng kasus PMK tersebut juga ditemukan di Lombok Timur. (kir)

Tiitle Ads