Kadistanbun Dompu Luncurkan E-Salaja dan Gema Saor

0
Kadis Pertanian dan Perkebunan Dompu, M Syahroni, SP, MM saat meluncurkan program yang menjadi tugas perubahan peserta diklatpim III yang diikuti M Syahrul Ramadhan, SP dan Ir Muhammad Iksan, MSI.(Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Kabupaten Dompu, Muhammad Syahroni, SP, MM melaunching aplikasi E-Salaja dan Gerakan Menanam Sayur Organik (Gema Saor). Aplikasi E-Salaja untuk penatausahaan surat dan dokumen dinas, sehingga mudah diarsipkan dan dicari ketika dibutuhkan. Gema Saor sendiri didorong untuk menyiapkan sayuran sehat dikonsumsi bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Kedua program ini diluncurkan sebagai bagian dari tugas tambahan Sekretaris Distanbun Dompu, Syahrul Ramadhan, SP dan kepala bidang Horti Distanbun Dompu,Ir Muhammad Iksan, M.Si yang sedang mengikuti diklatpim III tahun 2022.

Peluncuran itu sendiri dilakukan di aula kantor Distanbun Kabupaten Dompu, Kamis, 12 Mei 2022. Selain kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, hadir pula kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Dompu, Ir Wahidin, MSI dan perwakilan Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dompu.

Kadistanbun Kabupaten Dompu, Muhammad Syahroni, SP, MM kepada Suara NTB usai acara peluncuran mengungkapkan, kedua program yang diluncurkan dua pejabat Distanbun peserta diklatpim ini merupakan kebutuhan tugas pokok Dinas. Aplikasi E-Salaja diharapkan bisa mendokumendasikan data dan surat – surat di Dinas yang selama ini masih sering parsial. “Dengan adanya aplikasi ini, (Data dan surat) akan terdokumentasi dengan baik, dan terintegrasi dengan baik,” harapnya.

Begitu juga dengan Gema Saor yang menjadi tugas perubahan dari Ir Muhammad Iksan. Selain sebagai gerakan hidup sehat dengan sayuran alami tanpa campur bahan kimia dalam proses tumbuh kembangnya, gerakan ini juga dapat meminimalisir kebutuhan pupuk an organik yang menjadi kendala Dompu selama ini.

“Dengan adanya gerakan penanaman sayur organik, itu menjadi salah satu solusi akan ketergantungan petani pada pupuk an organik,” ungkap M Syahroni.

Diakui Syahroni, tingkat produksi tanaman horti antara yang menggunakan organik dan non organik sedikit berbeda. An organik lebih besar produksinya, tapi ada proses bercampurnya bahan kimia. Sehingga oleh ahli kesehatan menganjurkan penggunaan bahan makanan yang organik dan tanpa ada campur bahan kimia. Tapi karena produksinya lebih kecil dan nilai manfaat bagi kesehatan lebih baik, harga pun didorong untuk kompetitif. “Ini yang akan terus kita kampanyekan,” jelasnya.

Sebagai gerakan, kata Syahroni, pihaknya akan mengeluarkan SK kepala Dinas tentang pengembangan pertanian organik di lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu.

“Dengan surat edaran ini akan menjadi dasar di masing – masing BPP, di lahan yang dimiliki untuk mendemonstrasikan terkait pertanian organik ini,” katanya.

Kedua program ini mendapat apresiasi dari peserta yang hadir, bahkan perwakilan kepala BPS langsung meminta agar aplikasi E-Salaja bisa ditiru dan dikembangkan bagi kebutuhan dokumen dan surat di BPS. “Karena aplikasi ini akan dibenahi kembali sekembali di tempat diklat, setelah perbaikan itu kita minta agar bisa dibagi. Mungkin kami bisa meniru atau memodifikasi untuk kebutuhan di kantor,” kata perwakilan BPS. (ula/*)