Ekonomi NTB Tumbuh 7,76 Persen di Triwulan I 2022

0
Grafik struktur PDRB dan share masing-masing sektor terhadap pertumbuhan ekonomi. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Ekonomi NTB pada triwulan I tahun 2022 dibandingkan periode yang sama pada triwulan I tahun 2021 mengalami pertumbuhan cukup menggembirakan, sebesar 7,76 persen (y-on-y). Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Drs. Wahyudin, MM dalam penyampaian resminya, Senin (9/5) kemarin mengatakan,  perekonomian NTB berdasarkan besaran Produk Domestik  Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2022 mencapai Rp36,64 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp24,43 triliun.

Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 22,29 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Luar Negeri  mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 187,28 persen. Ekonomi NTB triwulan I-2022 dibandingkan triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 0,92 persen (q-to-q). Ekonomi NTB tanpa tambang bijih logam pada triwulan I-2022: tumbuh 5,15 persen (y-on-y), dan turun 1,04 persen (q-to-q).

Ia menjelaskan, berdasarkan struktur PDRB NTB menurut lapangan usahanya, beberapa sektor yang memberikan kontribusi terhadap PDRB (sektor dominan NTB) adalah sektor pertanian 21,91 persen, kemudian pertambangan 20,07 persen, perdagangan 13,54 persen, dan masing-masing di bawah 10 persen kontribusinya terhadap PDRB adalah konstruksi, administrasi pemerintahan, transportasi, jasa pendidikan, jasa keuangan, industri, real estate, informasi dan komunikasi, dan jasa lainnya.

Namun jika dilihat konstribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor dominan yaitu pertanian justru memberikan share hanya 4,65 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertambangan cukup besar sharenya 19,18 persen. Dan terbesar adalah akomodasi makan dan minum, sharenya sampai 22,29 persen. “Efek MotoGP cukup besar terhadap pertumbuhan dan kontribusi sektor akomodasi dan makan minum,” jelas Wahyudin.

Lainnya, perdagangan 5,37 persen, jasa keuangan 9,75 persen, industri 6,80 persen, jasa perusahaan 8,64 persen, listrik dan gas 5,30 persen. jasa lainnya 8,04 persen. Sisanya sektor lain di bawah 5 persen. Mengapa sektor pertanian sebagai sektor dominan kontribusinya kecil terhadap pertumbuhan ekonomi? Wahyudin juga menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir, sektor pertanian secara umum kontribusinya kecil, namun tetap tumbuh.

Penyebabnya, karena sektor lain seperti sektor pertambangan mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Sehingga sektor-sektor lainnya terlihat kontribusinya kecil. “Bukan karena tingkat produktivitas rendah atau gagal panen karena cuaca. Tapi lebih kepada tumbuh signifikannya sektor lain, terutama sektor tambang. Jadi jangan diartikan sektor pertanian tidak tumbuh,” demikian Wahyudin. (bul)