Kebakaran di Renda Diduga Ledakan Tabung Gas, Kerugian Capai Rp5 Miliar

0
Tenda pengungsi korban kebakaran Desa Renda Kecamatan Belo Kabupaten Bima, baru-baru ini.(Suara NTB/Ist)

Bima (Suara NTB) – Puluhan unit rumah warga Desa Renda Kecamatan Belo Kabupaten Bima yang terbakar pada Sabtu, 30 April 2022, diduga akibat meledaknya tabung gas pada salahsatu rumah warga di RT 11 yang bernama H. Jamaluddin.

“Penyebab kebakaran diduga akibat ledakan tabung gas dan kondisi rumah saat kejadian dalam keadaan digembok,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, M. Chandra Kusuma M.Ap akhir pekan kemarin.

Berdasarkan pendataan seminggu pasca kebakaran lanjut dia, tercatat ada 61 Kepala Keluarga (KK) atau 187 jiwa yang terdampak. Sedangkan total rumah warga yang terbakar sebanyak 61 unit. Rinciannya, rusak berat ada 49 unit, rusak sedang 4 unit, dan rusak ringan 8 unit. “Sementara kerugian ditaksirkan sementara mencapai Rp5 miliar,” ujarnya.

Disamping mendatan kerusakan rumah dan kerugian yang dialami warga, Chandra mengaku pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya pasca seminggu terjadinya kebakaran, seperti membangun tenda pengungsian, dapur umum dan membersihkan sisa-sisa kebakaran. “Menyiapkan makanan, dropping air bersih serta menyiapkan tempat tidur, selimut, obat-obatan bagi korban terdampak,” katanya.

Ia mengaku pihaknya menetapkan masa tanggap sejak tanggal 30 April sampai dengan 6 Mei 2021. Masa tanggap darurat selama 7 hari itu melibatkan sejumlah OPD, seperti Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Kesehatan (Dikes), Perkim, Disdukcapil, hingga TNI/Polri serta Tagana. “Masa tanggap darurat hanya seminggu dan sekarang dilanjutkan dengan masa transisi,” katanya.

Chandra menjelaskan masa transisi bertujuan untuk memenuhi dan melayani administrasi kegiatan lain yang dapat dilanjutkan oleh OPD tekni dalam penanganan korban. Meski begitu kegiatan yang bersifat kedaruratan tetap dilaksanakan sesuai kebutuhan korban. “Dapur Umum akan tetap dilaksanakan sampai dengan 3 hari kedepan mulai 7 samapi dengan 9 Mei 2022,” ujarnya.

Ia menambahkan saat ini, para korban terdampak sudah bisa mandiri dalam hal kebutuhan sehari-hari seperti konsumsi. Selain itu, mereka juga sudah tidak ingin menempati tempat pengungsian yang sudah disediakan. Begitupun dengan akses kesehatan. “Kondisi korban saat ini sehat. Yang sangat dibutuhkan pembersihan secepatnya. Kemudian finalisasi data seperti NIK, STNK, Sertifikat tanah, serta surat–surat berharga lainnya,” pungkasnya. (uki)