Dua Anak di Dusun Senggigi Alami Lumpuh dan Gizi Buruk

0
Dua anak di Dusun Senggigi Kecamatan Batulayar Lobar menderita gizi buruk dan lumpuh. (Suara NTB/ist)

Kawasan Senggigi Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Lobar) sudah terkenal hingga mancanegara. Destinasi ternama ini banyak dikunjungi wisatawan luar negeri. Sehingga tak heran, dari sektor pariwisata di kawasan ini banyak mendatangkan pendapatan daerah bagi Pemkab Lobar. Bahkan bagi Pemda, Senggigi menjadi tulang punggung penghasil PAD.

SAYANGNYA, di tengah gemerlap dan gemerincing pendapatan pariwisata di daerah itu tak serta merta dinikmati oleh masyakarat setempat. Pasalnya, masih ada dua anak menderita kelainan sejak lahir hingga mengakibatkan gizi buruk. Ibu dari dua anak ini juga sedang menderita sakit.

Adalah keluarga pasangan Abdul Rais dan Maeti, berdomisili di RT.06 Dusun Senggigi yang memiliki dua anak diduga menderita gizi buruk akibat penyakit epilepsi yang diderita sejak lama. Kedua putranya bernama Muzni (13) dan Rizal Alparizi (9). Keduanya adalah kakak-beradik. Berdasarkan keterangan dari orang tuanya, Muzni menderita epilepsi sejak 13 tahun silam.

Berkali-kali dibawa ke  rumah sakit, namun kondisinya belum bisa membaik hingga saat ini. Kondisi serupa juga dialami adiknya, Rizal Alparizi sejak 9 tahun silam.”Kami sudah berusaha namun belum ada perubahan sampai hari ini. Kami sudah pasrah, dan berharap ada keajaiban,” aku Rais saat dikunjungi.

Sementara itu Kades Senggigi Mastur mengakui dua anak dari pasangan Abdul Rais dan Maeti menderita sakit sejak lama. Pihaknya sudah membawa keduanya ke Rumah Sakit Provisi untuk mendapatkan penanganan.”Kami sudah bawa ke rumah sakit provisi Selasa pagi,” kata dia.

Pihaknya mulai menangani warga ini sejak tanggal 3 Desember 2021 semenjak diketahui menderita epilepsi. Saat itu pihaknya langsung meminta dibawa ke dokter, namun bersangkutan tidak mau. Dari awal kata dia bersangkutan tidak mau dibawa ke dokter. Sehingga terakhir mengalami penyakit gatal. Anak yang paling kecil mengalami penyakit gatal, sehingga kondisinya cukup kurang baik. Begitu pula kakaknya juga sakit. “Sekarang ibunya juga sakit, ada luka di bagian kaki,” kata dia.

Hal ini juga kata menyebabkan bersangkutan tidak mau ke rumah sakit. Selain itu tidak ada yang menunggu dan melayani di rumah sakit serta di rumah.

Terkait kondisi anak-anak inipun sudah disampaikan sejak awal ke Pemda dalam hal ini Bupati Lobar H. Fauzan Khalid. Bupati Lobar meminta agar anak-anak itu dibawa ke Rumah Sakit Awet Muda Narmada untuk mendapatkan penanganan.  “Tapi dari pihak keluarga yang Ndak mau ketika itu, dan itu permasalahannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT BLUD Puskesmas Meninting Ns Zaenal Abidin, S Kep membenarkan dua anak yang menderita gizi buruk tersebut.”Kesimpulannya dua anak ini menderita gizi buruk, Retaldasi Mental dan cacat bawaan (lumpuh). Bukan saja masalah asupan gizi tapi juga klainan yang butuh perawatan Rumah sakit, tapi pernah sempat nolak dirujuk,” kata dia.

Saat ini keduanya telah dirujuk ke RSUD Tripat Gerung. Itupun mereka mau dirujuk ke rumah sakit setelah timnya turun untuk edukasi. Dijelaskan kronologi kasus gizi  buruk menimpa kedua anak itu. Rizal Alfarizi dan Muzni masing-masing lahir tanggal 10/3/2013 dengan berat lahir 3,1 kilogram. Sedangkan Muzni lahir tanggal 14-02-2009 dengan berat lahirnya 3,3 kilogram. Mereka masing-masing anak ke empat dan ketiga dari empat bersaudara. Berat badan saat ini 7,8 kilogram untuk Rizal Alfarizi, sedangkan untuk Muzni belum diketahui berat terakhirnya. Keduanya diasuh setiap hari oleh ibunya. Pola makan anak mulai diberi makan usia kisaran 4-6 bulan. Jenis makanan yang diberikan bubur lumat dari bahan lokal, bubur SUN. Saat ini  anak makan 3 kali sehari dengan porsi kecil. Jenis bahan makanan yang biasa dikonsumsi nasi,sayur, ikan tongkol, tahu, tempe ayam.

Sejak satu bulan terakhir, keduanya menderita penyakit gatal, sehingga orang tuanya tidak memberikan lauk hewani, terkadang hanya diberi makan nasi, garam dan air. Rizal dan Muzni diketahui sering mengalami step sejak usia balita, mengalami kelumpuhan, dan keterbelakangan mental sejak lahir. Sejak usia 1-5 tahun kedua anak ini rutin dibawa ke Lombok Care untuk mendapatkan terapi.

Khusus untuk Rizal, sejak usia balita akan dibawa berobat ke Bali oleh Lombok Care tapi orang tua menolak. Selanjutnya keduanya dibawa beberapa kali berobat ke Puskesmas Meninting. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, seharusnya kedua anak dirujuk ke rumah sakit tapi orang tua menolak.  Kemudian, terakhir keduanya dibawa berobat ke Puskesmas Meninting dengan keluhan gatal-gatal. “Orang tua menolak saat anak mau dirujuk ke rumah sakit,dengan alasan ibu sedang sakit,”terangnya.

Bahkan pihak petugas puskesmas bersama desa rutin melakukan kunjungan rumah. Mereka memberikan konseling, edukasi tentang gizi dan kebersihan kepada keluarga. Petugas juga memberikan pengobatan kepada anak dan ibu sekaligus menjelaskan rencana bahwa anak akan dirujuk ke rumah sakit setelah Kartu BPJS anak selesai dibuatkan. Pihak keluarga juga diberikan beras dan telur. (her)