IPK Rangking 15, NTB Terbaik Nasional Pelatihan Kompetensi Kerja

0
I Gde Putu Aryadi. (Suara NTB/ist/Disnakertrans)

Mataram (Suara NTB) – Hasil pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan (IPK), Provinsi NTB naik ke peringkat 15. Sementara penilaian atas hasil kompetisi kerja terbaik nasional.

Penilaian ini disampaikan Pusat Perencanaan Ketenagakerjaan Kemnaker RI yang berhasil mengangkat derajad indeks NTB yang sebelumnya di  posisi 34, urutan buncit dari seluruh provinsi.

“Berdasarkan data tahun 2020, maka bersama ini kami sampaikan hasil pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi NTB ada di rangking 15,” demikian disampaikan  Kepala
Pusat Perencanaan Ketenagakerjaan Kemnaker RI, Siti Kustiati, S.E, M.Si.

Tidak hanya IPK, berdasarkan penilaian hasil pelatihan kompetisi kerja, Indeks Provinsi NTB tergolong paling tinggi atau terbaik nasional dengan nilai 13,06 persen, unggul dari DIY 1,57 persen.

Kadisnakertrans Provinsi NTB I Gde Putu Aryadi menyambut gembira, IPK NTB meningkat tajam, karena dibandingkan tahun sebelumnya berada di urutan buncit. “Menempati ranking 34 dari seluruh Provinsi di Indonesia,” sebut Gde Aryadi.

Keberhasilan itu salah satunya melalui terobosan  program Pepadu Plus. Artinya,  pelatihan dan pemberdayaan tenaga kerja terpadu,  plus pendampingan  produktivitas wira usaha dan bantuan peralatan.

“Program ini digelontorkan Disnakertrans Provinsi NTB berkolaborasi dengan lembaga pelatihan kerja serta dunia industri. Selain itu, melibatkan OPD terkait lainnya. Sehingga  IPK NTB melompat menjadi ranking 15 nasional,” ujarnya.

Bahkan pada Indikator pelaksanaan pelatihan dan kompetensi tenaga kerja, NTB berhasil menempati posisi terbaik nasional.

 “Ini merupakan prestasi luar biasa, karena pada tahun tahun sebelumnya, ranking IPK NTB selalu berada di papan bawah,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, IPK NTB tahun 2019 berdasarkan penilaian terhadap kinerja pembangunan ketenagakerjaan NTB, menempati ranking 26 nasional.

Bahkan tahun tahun sebelumnya juga belum pernah mencapai 20 besar Nasional.

“Malah IPK NTB tahun 2020 berdasarkan penilaian pusat menggunakakan data indikator capaian pembangunan ketenegakerjaan tahun 2019, posisi NTB terjun bebas ke juru kunci ranking 34 dari 34 Provinsi,” ungkapnya lagi.

Belajar dari pengalaman itu, pihaknya akan targetkan IPK NTB tahun 2022  dengan menggunakan indukator capaian kinerja tahun 2021-2022. “NTB harus bisa menempati ranking 10 besar nasional,” ujarnya optimis.

Maka untuk mencapai tujuan itu, ada dua program unggulan yang didorongnya, yaitu Pepadu Plus dan Zero Unprosedural pemberangkatan PMI  melalui gerakan edukasi dan sosialisasi terpadu menjadi Pekerja Migran Sukses. Ini  akan terus digeber, bersinergi dengan seluruh stakeholder terkait.

“Dari sisi capaian zero uprosedural PMI, kami bersyukur tahun ini Satgas perlindungan PMI NTB  mendapatkan anugerah penghargaan dari Menaker RI sebagai Satgas PPMI  terbaik Nasional, Satgas yang responsif dan memiliki program pencegahan dan perlindungan PMI yang dinilai sangat produktif,” tandasnya.

Akhir penyampaiannya, instansinya optimis dengan kebersamaan dan soliditas yang baik, target tersebut akan bisa dicapai. (r)