Pasar Seni Sayang-Sayang Mati Suri

0
H. Hamdan bersama rekan pedagang kerajinan di Pasar Seni Sayang-sayang duduk menunggu pengunjung yang datang berbelanja, Rabu, 12 Januari 2022. Destinasi wisata di Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Rembiga dulunya Berjaya, kini sepi dan perlahan mati suri karena ditinggalkan wisawatan. (Suara NTB/cem)

Kejayaan Pasar Seni Sayang-sayang perlahan memudar. Tak ada aktivitas transaksi antara  pedagang dengan pengunjung. Sentra kerajinan di Kota Mataram ini, terkesan mati suri.

KETIKA Suara NTB mencoba berkunjung ke sentra penjualan kerajinan di Jalan Adi Sucipto, Lingkungan Gegutu, Kelurahan Rembiga, Kota Mataram tersebut, Rabu, 12 Januari 2022, para pedagang kerajinan khas Lombok itu terlihat duduk di teras depan tokonya.

Bangunan ruko terlihat tak terawat. Bagian halaman ditumbuhi ilalang. Sementara, bangunan di sisi tengah yang biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan dan pertunjukan seni budaya tampak cukup lama tak dibersihkan. Plafon rusak dan ditumbuhi jamur.  Dari 20 toko yang ada di sentra kerajian tersebut, sekitar enam yang buka. Satu ruko beralih fungsi sebagai tempat penyewaan kendaraan.

Pedagang kerajinan di Pasar Seni Sayang-sayang, H. Hamdan menggambarkan kondisi yang dialami sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu. Wisatawan tak satupun datang berbelanja. Kondisi ini berbeda saat gempa bumi melanda Pulau Lombok tahun 2018 lalu. “Saat gempa justru ramai. Banyak orang-orang yang datang ngantar bantuan itu belanja ke sini. Sekarang Covid-19 malah sepi,” kata Hamdan.

Pendapatan diperoleh saat kondisi normal Rp500 ribu per hari. Sekarang jauh merosot. Terkadang, ia mendapatkan uang Rp50 ribu per hari. “Kadang juga ndak ada dapat apa-apa,” tuturnya.

Barang paling banyak dicari wisatawan seperti ketak, kotak tisu, kotak air mineral, dan aksesoris kecil lainnya. Dua tahun pandemi Covid-19 diakui, menjadi ujian terberat. Dia memprediksi pariwisata sulit pulih kembali. Pasalnya, aktivitas atau perjalanan wisata diperketat dan wisatawan harus mengeluarkan biaya banyak untuk pemeriksaan kesehatan. “Jarang sekali kita lihat turis, karena lamanya saya sampai lupa ngomong Bahasa Inggris,” ucapnya.

Hamdan menggeluti bisnis kerajinan khas Lombok sudah 20 tahun lebih. Saat Lombok terkenal di mata internasional, ia tidak kesulitan menjual produk kerajinan masyarakat setempat. Karena itu, ia mengharapkan kejayaan Pasar Seni Sayang-sayang bisa kembali seperti dulu, sehingga masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari menjual kerajinan tersebut bisa hidup sejahtera.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menyampaikan, strategi yang dilakukan untuk membangkitkan kembali aktivitas di sentra kerajinan. Yakni dengan memperbaiki destinasi wisata bukan kampung atau sentra kerajinannya. Seperti di penataan Taman Loang Baloq. Di sana sebut Denny, disiapkan lapak atau pusat penjualan kerajinan mutiara, cukli, dan kerajinan lainnya.

Setelah Pasar Seni Sayang-sayang beroperasi lanjutnya, baru pihaknya menyentuh kampung-kampung perajin. “Ini dulu kita benarin baru beralih ke kampungnya,” terangnya. Persoalan yang dihadapi perajin adalah pandemi Covid-19. Dua tahun wabah ini kata dia, menjadi ujian terberat.  Denny menambahkan, pihaknya juga akan menginformasikan kepada hotel-hotel maupun asosiasi pariwisata untuk mengarahkan wisatawan untuk berkunjung ke sentra kerajinan tersebut. Disamping itu, pihaknya berencana akan mengarahkan event di sentra kerajinan, sehingga bisa mempromosikan kembali kerajinan-kerajinan mereka. (cem)