Penggunaan CAS Sering Terkendala Biaya Operasional

0
Muhammad Riadi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Harga komoditas cabai dan tomat di pasar selalu fluktuatif. Kadang sangat tinggi, kadang harganya jeblok. Saat ini harganya sedang naik. Misalnya cabai di pasar harganya sekitar Rp 58 ribu per Kg. Naiknya harga bumbu dapur ini karena stok yang berkurang. Penyebabnya karena musim hujan sehingga menyulitkan petani menanam cabai dan tomat.

“Cabai dan tomat naik terus, ini kan alamiah pak. Tanaman cabai dan tanaman tomat masyarakat itu jika umur panennya sudah habis dengan sendirinya akan mati. Inilah yang membuat suplai dari cabai dan tomat itu menjadi berkurang,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Muhammad Riadi M.Ec.Dev kepada Suara NTB, Jumat, 7 Januari 2022.

Ia mengatakan, meskipun harga cabai masih cukup tinggi, namun beberapa waktu kedepan harganya akan berangsur normal kembali. Di Sembalun, berdasarkan hasil amatannya, banyak petani yang menanam cabai. Termasuk di beberapa wilayah lahan kering yang selama ini dipakai oleh petani menanam cabai, banyak terlihat yang menanam cabai rawit maupun cabai besar.

Kalau di lahan sawah memang sangat sedikit petani yang menanam cabai, karena nyaris semua lahan dipakai untuk menanam padi. Kalaupun ada petani yang menanam cabai di sawah, biaya produksinya akan tinggi karena musim hujan biasanya berisko terhadap genangan air.

“Nah di lahan-lahan kering itu yang kita harapkan akan menyuplai kebutuhan masyarakat, namun saya belum mendapatkan datanya sekarang. Tadinya saya juga mau meninjau yang di Desa Tebaban atau di daerah sentral cabai misalnya di Desa Kerongkong juga. Kemudian yang di Sambelia saya belum cek,” tuturnya.

Ia berharap komoditas cabai yang mahal ini tidak sampai menyumbang inflasi. Jika melihat sejumlah areal penanaman cabai, diperkirakan petani akan memanennya bulan Maret mendatang. Jika sudah panen, tentu harganya akan normal kembali.

Untuk menekan harga cabai ini, Riadi mengaku telah melakukan beberapa cara. Misalnya dengan mendorong beberapa wilayah agar ikut menanam cabai, seperti Kabupaten Bima. Bahkan di tahun 2021 ini pihaknya memberikan stimulus berupa pemberian bibit gratis.

“ Kita dorong penanaman cabai di Bima, kita berikan stimulant tahun 2021, daerah yang tidak pernah tanam cabai kita berikan bibitnya. Namun sepertinya petani di Bima sangat suka menanam bawang merah,” tuturnya.

Bagaimana dengan pemanfaatan CAS (Controlled Atmosphere Storage) atau ruang penyimpanan terkondisi yang bisa digunakan saat harga anjlok? menurut Muhammad Riadi, teknologi CAS memang sepintas terlihat menjadi solusi yang paling tepat saat panen raya. Namun CAS sesungguhnya memiliki biaya operasional yang tinggi karena mengkonsumsi daya listrik yang tidak sedikit.

“Kalau kita simpan komoditas satu bulan, berapa biaya listrik yang kita bayar kemudian berapa ton yang kita simpan di sana kemudian berapa hasilnya,. Kan itu yang harus kita hitung. Biaya operasionalnya harus dihitung,”  kata Riadi.

Terkecuali CAS tersebut memiliki daya tenaga surya, tentu akan lebih efektif daripada menggunakan tenaga listrik PLN. “Kalau ada tenaga matahari itu bagus, jadi misalnya kita taman di lahan satu dua are kemudian kita simpan bertingkat kemudian menggunakan cold storage matahari itu yang menarik,” tutupnya.(ris)