Asita Khawatir Ada Broker Memainkan Tarif Hotel Jelang MotoGP

0
Umbu Joka. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Ketua Asosiasi Travel Agen (Asita) Provinsi NTB, Dewantoro Umbu Joka mengkhawatirkan adanya permainan broker yang mengambil kesempatan menaikkan tarif hotel menjelang penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika, 20 Maret 2022 nanti. Ia mendapatkan informasi, adanya hotel-hotel yang sudah diboking penuh, meski gelaran MotoGP sekitar tiga bulan lagi.

“Bagaimana mungkin hotel sudah full boking, sementara harga tiket MotoGP belum dirilis secara resmi. Kan tidak masuk akal sebenarnya,” kata Umbu ditemui di Mataram, Rabu, 15 Desember 2021. Seperti diketahui, berkaca dari penyelenggaraan World Superbike (WSBK) pada 19-21 November 2021 di Sirkuit Mandalika, jauh-jauh hari kamar hotel sudah diboking penuh. Apalagi hotel-hotel yang ada di ring I di Kabupaten Lombok Tengah.

Umbu mengkhawatirkan ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan sebesar-besarnya atau melakukan konspirasi. Menurutnya, persaingan di sektor pariwisata tidak kecil. Sehingga sebagai tuan rumah, mestinya dilakukan antisipasi. Agar kemudian citra NTB menjadi tidak baik di kemudian hari. Tarif hotel saat diselenggarakannya event internasional naik hingga 200 persen. Disaat normal, untuk kamar hotel bintang 4 kata Umbu, biasanya di kisaran Rp650.000/malam.

Namun ada pihak yang menaikkan tarif berlipat-lipat di atas harga itu. Dengan alasan, suplay and demand (ketersediaan dan permintaan). Ada fenomena boking hotel jauh-jauh hari sebelum perhetalan diselenggarakan. Penafsirannya gamang. Apakah boking hotel ini murni karena kekhawatiran tidak mendapatkan kamar saat MotoGP nanti. Atau yang lebih mengkhawatirkan, ada pihak-pihak yang memborong kamar hotel. Kemudian mereka yang membuat paket wisatanya nanti dengan harga tinggi.

“Atau bisa juga, ada pihak yang sengaja borong kamar hotel. Sehingga tamu-tamu lain tidak bisa menonton MotoGP. Bagaimana mau menonton kalau tempat menginapnya tidak ada. Kita ndak tau, ada pihak yang bermain di dalam negeri, atau di luar negeri,” imbuhnya. “Kita ndak tau, ada yang borong-borong kamar hotel dulu. Nanti dia yang atur,” katanya.

Menurutnya, spekulasi tersebut berisiko merusak nama tuan rumah. Apalagi kamar hotel nantinya dijual dengan harga tak wajar. Maka, tamu-tamu dari berbagai penjuru, tentu akan mencari alternative yang lebih murah. Misalnya di Bali, atau di Banyuwangi. “Orang bisa lari ke Bali atau Banyuwangi. Kalau mau nonton tinggal nyeberang sebentar. Tapi mereka puas menginap dengan tariff  normal di sana. Ini bisa menjadi dampak yang tidak baik tuan rumah. Tamu bisa sepi di sini, justru di daerah lain yang ramai. Kesini cukup cuma nonton doang,” imbuhnya.

Terkait tariff hotel ini, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah berencana mengeluarkan edaran. Mestinya jauh-jauh hari. Edaran tentu tak mempan, apalagi jika kamar hotel sudah diboking. Umbu setuju, hotel tidak jor-joran dulu menjual kamar secara gelondongan. Untuk mengantisipasi adanya permainan spekulan. (bul)