ARLS Meningkat, Wajib Belajar Sembilan Tahun Harus Digencarkan Lagi

0
H. Arsyad Abdul Gani. (Suara NTB/ron)
ads top adsamman

Mataram (Suara NTB) –  Angka Rata-rata Lama Sekolah (ARLS) di NTB pada tahun 2020 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2019. Angka rata-rata lama sekolah pada tahun 2020 sebesar 7,31 tahun. Angka tersebut dianggap masih relatif kurang. Oleh karena itu wajib belajar sembilan tahun harus terus digencarkan oleh pemerintah.

Pemerhati Pendidikan yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Dr. H. Arsyad Abdul Gani, M.Pd., ditemui di ruang kerjanya mengatakan, pemerintah harus menggiatkan kembali dan mengejar semua anak di NTB mengikuti wajib belajar sembilan tahun.

“Wajib belajar dengan adanya dana BOS tidak ada lagi alasan anak tidak sekolah. Apa akar masalahnya, kenapa masih ada orang yang tidak sekolah? Saya pikir ini perlu jadi program prioritas,” ujarnya.

Ia mengusukan agar wajib belajar di jenjang pendidikan dasar harus menjadi prioritas utama, di samping memberikan beasiswa untuk pendidikan tinggi. Semua anak di NTB harus menikmati pendidikan.

“Kalau sudah berpendidikan orang akan bisa menjalani hidup sendiri, kalau sakit bisa cari dokter, Puskesmas dan rumah sakit. Kalau tidak bisa makan, mereka akan cari kerjaan. Kalau tidak berpendidikan, pikirannya pendek,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS tahun 2020 perkembangan ARLS Tingkat Sekolah Menengah (SM) di Provinsi NTB Tahun 2018–2020 mengalami peningkatan yaitu di tahun 2018 sebesar 7,03 tahun, tahun 2019 sebesar 7,27 tahun, dan tahun 2020 sebesar 7,31 tahun. ARLS pada tahun 2020 sebesar 7,31 tahun.

“Kapan kita bisa di angka 8 atau 9 tahun, dari data tersebut masih banyak anak NTB ini yang hanya baru lulus SD ditambah satu tahun di jenjang SMP. Saya kira ini penting, kalau bisa 9 tahun sudah luar biasa, ini harus dikejar,” sarannya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., menjelaskan,   angka rata-rata lama sekolah sebesar 7,31 tahun artinya penduduk di Provinsi NTB yang berusia 25 tahun ke atas memiliki rata-rata lama sekolah7,31 tahun. “Atau rata-rata penduduk di Provinsi NTB telah menamatkan pendidikan minimal kelas VII,” ujarnya.

Aidy menjelaskan, adanya peningkatan angka rata-rata lama sekolah tersebut merupakan progres dari arah kebijakan Dinas Dikbud NTB untuk mewujudkan layanan akses pendidikan yang berkeadilan. “Akses pendidikan dari sisi ketersedian dan keterjangkauan. Ketersediaan lebih ke fasilitas, dan keterjangkaun lebih ke akses baik dari zona dan keterjangkauan pembiayaan,” jelasnya.

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi NTB, H. Rumindah dalam kesempatan sebelumnya menekankan, untuk meningkatkan angka rata-rata lama sekolah sejak awal harus meningkatkan angka partisipasi usia sekolah untuk masuk pendidikan dasar. “Kemudian menekan angka putus sekolah atau drop out untuk semua jenjang pendidikan,” ujarnya.

Rumindah menekankan, angka yang relatif rendah tersebut bisa disebabkan karena banyak anak tidak sekolah dan anak putus sekolah. Anak yang tidak sekolah bisa disebabkan faktor ekonomi, tempat sekolah jauh, tidak adanya biaya sekolah, dan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah.

Ia menyebutkan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain mendekatkan sekolah dengan sumber murid. Jika sekolah sudah dekat dengan rumah siswa, maka bisa menekan biaya sekolah, di antaranya siswa tidak perlu mengeluarkan uang transportasi menuju sekolah. (ron)