NTB Bersiap Ekspor Balokan Kayu Sonokeling

0
Samsul Hadi (kiri) bersama Dirut PT. Chaya Ramadhan, anak usaha PT. GNE Edy Fikri menunjukkan kayu sonokeling yang akan di ekspor perdana ke China.(Suara NTB/bul)
ads top adsamman

Mataram (Suara NTB) – NTB tengah mempersiapkan untuk mengekspor balokan kayu sonokeling. Negara tujuannya adalah China. Kayu Sonokeling adalah kayu berwarna gelap dan berkualitas tinggi, sehingga sering dilirik sebagai bahan furnitur. Ketersediaan kayu ini disebut sangat melimpah di NTB.

Eksportirnya adalah PT. Gerbang NTB Emas. Tinggal menunggu moratorium penebangan kayu sonokeling disesuaikan kembali. “Pembelinya sudah menunggu di China. Sudah ada kesepakatan kerjasama,” kata Direktur Utama PT. Gerbang NTB Emas, Samsul Hadi. Kayu sonokeling yang akan diekspor ini, kata Samsul Hadi, bukan kayu yang ditebang di luar hutan. Sehingga dipastikan tidak mengganggu keseimbangan hutan. Pun untuk menjaga kelestariannya, komitmen BUMD NTB ini, akan dilakukan penanaman kembali dua kali lipat dari jumlah yang ditebang.

Selama ini, kayu-kayu NTB dijual gelondongan. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah tidak menginginkan itu terjadi terus menerus. NTB harus melakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah/nilai jualnya. PT. GNE sudah memiliki alat-alat untuk pengolahan kayu. Melalui anak perusahaannya, PT. Cahaya Ramadhan yang menjalankan usaha meubelair. Anak perusahaannya ini bahkan sudah menyiapkan contoh balokan kayu sonokeling yang diminta pembeli dari China.

“Sesuai permintaannya. Kayu yang harus dikirim sudah dalam bentuk balokan dengan diameter 4 cm. Panjang minimal 60 cm. Yang dalam bentuk papan, minimal panjangnya 1,5 meter. Kita sudah siapkan. Kalau moratorium sudah dicabut, langsung ekspor,” kata Edy Firki, Dirut PT. Cahaya Ramadhan bersama Samsul Hadi di gudang produksi di komplek kantor PT. GNE, Jumat, 26 November 2021.

Samsul Hadi menambahkan, dengan pengolahan yang dilakukan oleh perusahaan, harga jual kayu sonokeling ini naik dua kali dari harga jika dijual gelondongan. PT. GNE saat ini sudah menerima pesanan sebanyak 250 kubik per triwulan dari pembeli di China. Jika dinilaikan, harganya di kisaran Rp10 miliar. “Kalau dijual gelondongan, harganya hanya Rp5 miliar. Kalau diolah, naik seratus persen harganya. Ini yang diharapkan pak gubernur. Agar nilai tambah yang didapat lebih besar,” imbuhnya.

China menjadi negara dengan pangsa pasar potensial kayu sonokeling. Mengapa? Karena di negara tirai bambu ini sangat meyakini, furniture atau patung-patung yang dibuat dari kayu sonokeling membawa hoki. PT. GNE saat ini terus melakukan ekspansi bisnis. Ada tujuh bidang usaha yang digeluti saat ini. Diantaranya, sektor konstruksi, agro, perdagangan umum, property, penyediaan tenaga kerja, industry kayu, dan maufactur. (bul)