Sindikat Copet Internasional Gagal Beraksi di WSBK

Mataram (Suara NTB) – Sindikat copet internasional tertangkap saat beraksi pada hari terakhir World Superbike (WSBK) Mandalika, Minggu akhir pekan lalu. Sindikat yang dijalankan satu keluarga ini bekerja sistematis. Mulai dari menyiapkan akses masuk sirkuit sampai menyembunyikan ponsel hasil curian.

Meski demikian, aksi mereka langsung digagalkan. Aksi mereka di area stand makanan Gate 3 Mandalika International Street Circuit dipergoki korbannya. Tim Puma yang bersiaga di lokasi pun langsung bergerak mengamankan pimpinan sindikat ini.

Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata menjelaskan, aksi para sindikat ini terstruktur sejak datang ke Lombok pada Kamis pekan lalu. Mereka menyiapkan modal untuk transportasi, penginapan, bahkan membeli tiket resmi menonton WSBK untuk hari ketiga.

“Mereka keluar modal Rp5 juta. Mulai ongkos pesawat dari Jakarta ke sini, sewa losmen, sewa motor, juga membeli tiket WSBK harian yang harganya Rp400 ribu,” terangnya, Selasa, 23 November 2021 didampingi Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto.

Sindikat ini diketuai DC (45) warga Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kemudian istrinya berinisial LN (41) dan putri pertamanya, DT (24). Perempuan asal Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat AW (33) juga ikut serta dalam proyek pencopetan di kegiatan balapan kelas dunia perdana di Lombok ini.

Hari menjelaskan, modus yang dijalankan sindikat ini sudah terorganisasi. Sang istri, LN berperan sebagai pemetik, anaknya DT ditugasi untuk mengalihkan perhatian korban, kemudian AW mengoper ponsel yang berhasil diambil LN kepada DC.

“Si suami ini punya tugas membongkar HP yang didapat. Kartu SIM-nya dicopot dan membongkar kode pengamanan. Jadi mereka bekerja ini sudah ada tugasnya masing-masing,” ucap Hari.

Para pelaku ini beraksi pada Minggu, 21 November 2021. Lokasinya di stand Pertamina di areal tribun barat dan di stand makanan gate 3 sirkuit sisi tribun barat. Mereka bisa masuk ke areal terbatas itu karena mendapat akses dengan modal membeli tiket area Tosca. Polanya dengan berbaur bersama penonton.

Bukan Pemain Baru

Sindikat ini bukan pemain baru. Mereka sudah berpengalaman khususnya pada kegiatan-kegiatan balap internasional. Riwayat mereka beraksi di MotoGP Sepang, Malaysia dan F1 Singapura.

Demikian juga pencopetan di Batam, Kepulauan Riau yang teridentifikasi sebanyak 50 kali. “Memang spesialis kalau ada event balap seperti ini,” ucap Hari.

Para pelaku ini mulai beraksi sejak tiba di Lombok. Yang pertama disasar yakni pengunjung salah satu pusat perbelanjaan di Mataram. Modus yang dipakai sama dengan aksi di sirkuit Mandalika.

Dari kasus itu, sejumlah barang bukti disita. Di antaranya, ponsel Samsung S10, Samsung M51, iPhone Pro Max, sejumlah pakaian yang dipakai para pelaku beraksi. Dengan modal Rp5 juta, mereka meraup Rp23 juta dari sehari beraksi.

Ketua sindikat DC ditangkap di hari yang sama di area sirkuit. Sementara tiga pelaku lainnya yang kesemuanya perempuan ditangkap di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. “Mereka sudah naik kapal Ferry. Rencananya mau kabur ke Bali karena pimpinannya ini tertangkap,” jelasnya.

Dari kasus itu, sedang dikembangkan anggota lainnya dari sindikat ini. Tim Puma sedang mengembangkan keterlibatan empat pelaku lainnya. Sebab, komplotan ini juga dilaporkan beraksi pada Sabtu, 20 November 2021. Korbannya seorang wartawan asal Jepang yang kehilangan ponselnya. “Sebenarnya total anggota sindikat ini ada delapan orang. Ini yang sedang kita kejar,” imbuhnya.

Sasar MotoGP

Sirkuit Mandalika akan menyelenggarakan MotoGP kalender balap tahun 2022. Tepatnya pada Maret yang didahului dengan agenda tes pramusim pada Februari. Dua ajang bergengsi ini sejatinya menjadi rencana para sindikat tersebut melanjutkan aksinya. Tetapi mereka sudah lebih dulu tertangkap.

“Rencananya saat MotoGP nanti, mereka mengundang pemain (copet) dari Malaysia, Turki, Thailand, Singapura, dan Filipina,” terang Hari berdasarkan hasil interogasi para pelaku.

Sementara pelaku DC bercerita, masing-masing mereka menyiapkan modal sendiri untuk membiayai operasi pencopetan di WSBK Mandalika. “Saya di rumah kerja rental sepeda listrik. Gak ada kerja di luar, sudah dua tahun nganggur,” ucapnya.

DC mengaku tidak mengajak tiga perempuan lainnya untuk bersama-sama ke Lombok. Melainkan masing-masing mereka sendiri yang punya keinginan untuk ikut. “Jadi kita berempat modalnya Rp5 juta,” sebutnya.

Kemudian sang istri, LN mengaku bertugas untuk memantau calon korbannya. Salah satu pertimbangannya dari jenis kelamin. “Memang nyari perempuan yang kebuka tasnya. Kalau cari yang laki saya takut. Perempuan aja lah yang gampang,” kata residivis kasus pencurian ini. (why)

perbakin



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Lahan PDAM Hendak Diserobot, Satpol PP Cari Pelaku yang Timbun Tanah...

0
Dompu (Suara NTB) - Lahan pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Dompu seluas 22,3 are di jalan lingkar utara Karijawa Dompu diduga hendak diserobot warga. Sejumlah...

Latest Posts

Lahan PDAM Hendak Diserobot, Satpol PP Cari Pelaku yang Timbun Tanah Uruk di Lahan PDAM

Dompu (Suara NTB) - Lahan pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten...

Pemprov NTB Dorong Peningkatan Waktu Kunjungan ke Gili Trawangan

Mataram (Suara NTB) – Tak cukup sehari dua hari,...

Polisi Tembak Tersangka Perampok dan Pemerkosa

Selong (Suara NTB) - Satuan Reskrim Polres Lombok Timur...

Triathlon Ironman 70.3, Diikuti Ribuan Peserta dari 32 Negara

Giri Menang (Suara NTB) - Perhelatan Triathlon Ironman internasional...

Lima Kapal Pesiar Dijadwalkan Singgah di Gili Mas

Giri Menang (Suara NTB) - Lima kapal pesiar dijadwalkan...