Selama WSBK, 75 Persen Produk UMKM Mataram Terjual

0
Dedi Supriadi. (Suara NTB/Jun)

Mataram (Suara NTB) – Selama gelaran World Superbike (WSBK) Mandalika berlangsung pada 19-21 November kemarin, hasil penjualan produk pangan dan kerajinan meningkat signifikan. Dari 22 stand UMKM Kota Mataram di area sirkuit, sekitar 75 persen produk yang dijajakan pengusaha laku terjual.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Mataram, Dedi Supriadi menyampaikan, gelaran WSBK Mandalika kemarin tidak saja menguntungkan pengusaha hotel, jasa transportasi dan sektor lain. Pelaku UMKM juga menerima manfaat besar dari ajang balap motor kelas internasional tersebut.

Pada 22 stand yang disiapkan untuk UMKM Kota Mataram misalnya, selama tiga hari kegiatan sekitar 75 persen produk laku terjual. “Alhamdulillah, 75 persen habis barang jualan dari 22 UMKM, termasuk mutiara sehingga omsetnya tinggi,” ungkapnya.

Dari sekian produk pangan dan hasil kerajinan yang dijajakan pelaku UMKM, menurutnya rata diburu penonton WSBK Mandalika, baik tamu luar NTB maupun mancanegara.

Pada hari pertama produk pangan paling banyak dicari, sementara dua hari terakhir penonton memburu hasil kerajinan dari kerang mutiara.

Jika melihat persentase produk yang laku terjual, Dedi Supriadi menyakinkan bahwa pengusaha memperoleh keuntungan hingga ratusan juta rupiah. “Dari 75 persen produk yang terjual kalau kita uangkan omsetnya bisa sampai ratusan juta,” jelasnya.

Mengingat ini merupakan ajang perdana wajar ditemukan sejumlah kekurangan, seperti misalnya stand bagi UMKM. Menurut dia ukurannya masih terlalu kecil untuk menampung produk yang dihasilkan pelaku usaha. Pun jumlah UMKM yang diakomodir masih sangat terbatas.

Soal omset UMKM yang berada di wilayah kota sendiri, Dedi belum memastikan. Hanya saja, mereka tetap diakomodir dengan mendapat ruang jualan di area hotel tempat menginapnya para tamu. “UMKM di sini juga merasakan manfaatnya. Peserta UMKM yang belum mendapat lapak di sana (sirkuit) Insya Allah tahun berikutnya. Dengan catatan harus ada izin BPOM, higienis dan harus ada izinnya,” pungkas dia. (jun)

Tiitle Ads