Monumen Mataram Metro akan Jadi Ikon Daerah

0
Monumen Mataram Metro di Jalan Dr. Soedjono, Kelurahan Jempong Baru akan direvitalisasi kembali. Pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi finansial daerah. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram akan merevitalisasi kawasan di Monumen Mataram Metro. Pengerjaan dilakukan secara bertahap. Monumen harus menjadi ikon daerah yang memiliki filosofi dan merefleksikan kedaerahan.

Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana mengatakan, pihaknya berencana melakukan revitalisasi kawasan di Monumen Mataram Metro di Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela. Revitalisasi dimulai dengan membuat perencanaan dan ditindaklanjuti dengan membuat detail engineering design (DED), sehingga bisa diintervensi setiap tahun anggaran.

Pelaksanaan pekerjaan diakui tidak memungkinan dilakukan satu tahun anggaran, karena kondisi finansial daerah masih terbatas. “Tetapi kita berharap dua atau tiga tahun kedepan bisa selesai,” kata Mohan dikonfirmasi, Kamis, 18 November 2021.

Meski dikerjakan secara parsial, kata Mohan, bangunan itu harus mempunyai guiding dalam rangka pengawasan dan harus terintegrasi. Di samping itu, penataan monumen tidak saja fisiknya saja, termasuk variabel pendukung lainnya. Seperti, ruang bagi pedagang kaki lima dan lain sebagainya.

Walikota mengharapkan, dengan diselesaikannya monumen tersebut bisa menjadi land mark yang layak dijadikan ikon di Kota Mataram. “Saya berharap ini bisa menjadi ikon baru di Mataram,” harapnya.

Keberlanjutan pembangunan monumen belum membahas detail kebutuhan anggaran. Pihaknya hanya merumuskan perspektif grand design yang harus dikerjakan. Menurut Mohan, bangunan itu tidak mungkin dibiarkan dalam kondisi demikian secara terus menerus dan terkesan terbengkalai.

Mohan optimis bisa melakukan revitalisasi. Lokasinya yang strategis di pintu gerbang menuju kota harus menampilkan ikonik dan memberikan kesan yang tidak hanya dari sisi bangunan saja, tetapi harus memiliki kedalaman filosofis dan namanya harus merefleksikan kedaerahan. “Saya berharap bisa menggambarkan kondisi kedaerahan kita dari bangunan itu,” tambahnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Miftahurrahman sebelumnya menyebutkan, kebutuhan anggaran untuk monumen sekitar Rp5 miliar. Anggaran itu untuk menyelesaikan bagian halaman serta kantor. Pelaksanaanya pun tergantung kondisi anggaran. (cem)

Tiitle Ads