Pelaku UKM Gula Aren dan Madu Trigona di Lobar Berharap Diserap JPS

0
Petani madu trigona, Habiburrahman bersama Camat Batulayar, Afgan Kusumanegara saat panen madu trigona.

Giri Menang (Suara NTB) – Pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) berupaya bertahan di tengah kondisi Pandemi Covid-19. Akibat Pandemi ini, omzet mereka minus dari kondisi normal. Mereka pun berharap agar produk mereka diserap program Jaring Pengamanan Sosial (JPS) yang dilaksanakan pemerintah Provinsi NTB maupun Pemkab Lobar.

Ketua LBS Mandiri, Abdul Hadi sekaligus pemilik UKM Serbat Jahe Desa Persiapan Longseran Kecamatan Lingsar mengatakan, kondisi saat ini sedikit lebih baik dibanding di awal-awal penerapan PPKM darurat. “Lebih mending sedikit daripada kemarin (di awal penerapan PPKM) sangat sepi,” terang Hadi, Minggu, 8 Agustus 2021.

Namun, semenjak banyak warga yang isolasi mandiri justru terjadi peningkatan permintaan serbat jahe ini. Meski demikian, ia mengaku kondisi hasil penjualan masih minus. Jika dibanding dengan kondisi normal, justru terdapat minus 25 Persen. “Hampir mendekati omset normal sekitar 75 persen, sekitar 25 persen minus dari normal. Tetapi sekarang masih mending,” ujarnya. Apalagi ditambah dengan diserapnya gula aren sebanyak 250 pcs untuk program JPS provinsi baru-baru ini.

Apalagi dengan adanya rencana Pemda Lobar kembali memprogramkan JPS. Karena hal ini sangat diharapkan bisa mendongkrak penghasilan UKM dan IKM. “Itu yang sangat kita harapkan, pasti kami gembira kalau produk kami diserap,” ujarnya.

Untuk bahan baku, kata dia, tidak ada masalah karena saat ini sedang banyak produksi. Hal senada disampaikan Habiburrahman pengusaha lebah trigona. Dirinya sangat berharap agar produk madu trigona yang diproduksinya bisa diserap oleh program JPS Lobar. “Sangat setuju dan berharap produk madu trigona kami diserap untuk JPS,” akunya.

Menurutnya, dari sisi ketersediaan madu, tetap ada. Ia mampu memperoleh hasil panen madu dalam sekali panen sebanyak 30 liter. Dengan jumlah koloni 379. Stup atau kotak tempat budi daya lebah disebar di beberapa dusun, seperti di Dusun Seraye, Bengkaung Tengak, dan Bunean. “Tiga bulan sekali panen, tetapi bisa kontinu satu bulan sekali bisa panen 60 kotak (stup),” imbuhnya. Kalau panen per bulan sebanyak 60 stup, ia mampu memperoleh kurang lebih 7 liter madu trigona.

Diakuinya, saat pandemi ini permintaan sendikit menggeliat. Karena diyakini madu trigona mampu meningkatkan daya tahan tubuh atau imun kalau dikonsumsi. “Itu yang menyebabkan madu trigona banyak dicari,” ujar pria yang masih di bangku kuliah ini.

Sementara itu, Camat Batulayar, Afgan Kusumanegara sangat mendukung madu trigona yang dihasilkan petani di wilayahnya, seperti di Desa Bengkaung bisa diserap untuk program JPS. Ia juga berharap agar OPD terkait memberi dukungan yang lebih supaya mereka bisa lebih berkembang.

Saat ini dengan minim dukungan saja petani bisa membudidayakan ratusan stup trigona. Apalagi mendapat dukungan penuh dari Pemda tentu produksinya akan lebih banyak lagi, sehingga lebih banyak pula yang bisa dikerjakan oleh masyarakat.

“Imbasnya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terlebih disaat kondisi Pandemi ini, di mana warga tidak bisa leluasa keluar berkerja. Maka usaha rumahan seperti ini sangat pas untuk mendongkrak perekonomian warga,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid mengatakan, terkait kebijakan program pemberian JPS untuk masyarakat, pihaknya belum mendapatkan informasi dari provinsi. “Tetapi yang pasti kami sudah siap-siap untuk itu (program JPS), walaupun belum kami putuskan,” jelas dia.

Pihaknya akan melihat kemampuan anggaran, disesuaikan dengan jumlah penerima termasuk pagu per orang yang menerima bantuan ini. Soal perkiraan anggaraan, pihaknya perlu mencari anggaran karena refocusing 8 persen tidak bisa diganggu gugat. Karena, kalau kurang, maka Pemda diberikan sanksi. Diakui, masih ada dana BTT, tetapi jauh dari cukup untuk JPS. Terkait pola program JPS, pihaknya mempertimbangkan penggunaan pola melibatkan Bumdes dan UKM. (her)