Kemenkes Respons Permintaan Gubernur, NTB Kembali Kedatangan 21 Ton Oksigen

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merespons surat Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., yang meminta tambahan kuota satu iso tank oksigen ke NTB. Setelah kedatangan satu iso tank oksigen kapasitas 18 – 20 ton menggunakan kapal, Kamis, 30 Juli 2021, NTB kembali mendapatkan pasokan oksigen sebanyak 21 ton.

‘’Surat Pak Gubernur sudah direspons. Satgas Covid-19 Pusat sudah saya sampaikan surat itu. Pak Gubernur juga menyampaikan ke yang lebih tinggi,’’ ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri, M.M., MARS., dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 30 Juli 2021.

Dengan diresponsnya surat Gubernur tersebut, kata Fikri, maka NTB akan mendapatkan pasokan oksigen sebanyak 40 ton setiap minggu. Karena setiap minggu akan dikirim dua iso tank dengan kapasitas masing-masing antara 18 – 20 ton.

‘’Saya juga dapat kabar, hari ini (kemarin,red) akan datang lagi sekitar 21 ton,’’ ungkapnya.

Berdasarkan data Satgas Nasional, ketersediaan dan pemakaian oksigen di NTB gapnya paling kecil di Indonesia, yaitu minus 2,46 persen. NTB berada di bawah Jambi dengan minus 2,99 persen. Sedangkan provinsi yang paling besar gap antara ketersediaan dan pemakaian oksigennya adalah Jawa Barat minus 65,12 persen, Jawa Timur minis 63,03 persen dan DKI Jakarta minus 43,98 persen.

Menurut Fikri, kedatangan oksigen sebanyak 18 – 20 ton pada Kamis, 30 Juli 2021, cukup lumayan membantu memperkecil gap ketersediaan dan pemakaian oksigen di seluruh rumah sakit di NTB.

Untuk memonitor ketersediaan pasokan oksigen di seluruh Indonesia, kata Fikri, Satgas Nasional telah meminta Pemda melaporkan kondisi setiap hari. Jika ada daerah yang gapnya sangat besar, maka Pusat akan langsung mengirim oksigen ke daerah.

‘’Saat ini, yang perlu kita ikhtiarkan penambahan kuota yang masuk ke NTB. Sekarang, bagaimana yang ada, kita distribusikan ke seluruh NTB. Itu tugas Satgas, bagaimana memastikan distribusi ke seluruh NTB,’’ ujarnya.

Selain itu, kata Fikri, Satgas Provinsi mendorong kabupaten/kota di Pulau Sumbawa agar punya oksigen generator. Sehingga bisa memproduksi oksigen sendiri.

‘’Karena suplai oksigen sekarang ini di Jawa dan Bali, semua masih sama kondisinya. Tapi dari grafik nasional, kita di NTB, minusnya paling bawah dibandingkan daerah lain,  paling atas Jawa Barat, Jawa Timur dan Jakarta,’’ jelasnya.

Dalam jangka menengah dan panjang, kata Fikri, oksigen bisa diproduksi di kabupaten/kota. Selain itu, lanjut Fikri, melakukan efisiensi di tingkat layanan kesehatan terutama di rumah sakit besar pemakaiannya seperti  RSUD NTB dan RSUD Kota Mataram. Rata-rata, kata Fikri, pemakaiannya sampai 8 ton per hari dengan lonjakan pasien Covid-19.

‘’Sekarang hitungannya kebutuhan itu jam. Kemarin masih ketersediaannya 24 jam. Dengan adanya yang datang, langsung distribusi. Harapannya gap ketersediaan dan pemakaian semakin kecil,’’ tandasnya.

Sebagaimana diketahui, sebelum adanya lonjakan kasus Covid-19 di NTB, stok oksigen di daerah ini sebesar 220 ton sebulan. Dengan jumlah pemakaian sebesar 120 ton sebulan. Sebelumnya, masih ada ketersediaan stok sekitar 100 ton sebulan. Namun, sejak minggu ketiga Juli, pemakaian oksigen di NTB terus meningkat seiring dengan terus bertambahnya pasien Covid-19. (nas)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...