Sopir Taksi Dibekuk Polisi saat Transaksi Narkoba di Kediri

0
Kasatres Narkoba Polres Lobar dan Kapolsek Kediri serta jajaran saat jumpa pers penangkapan terduga sindikat jaringan pengedar narkoba.

Giri Menang (Suara NTB) – Peredaran gelap Narkotika melibatkan sindikat jaringan pengedar narkoba yang menyambi sebagai sopir taksi, kembali diungkap di Lombok Barat. Satuan Reserse Narkoba Polres Lobar bersama tim Dukep Polsek Kediri kembali menangkap dua orang terduga pelaku sindikat, masing-masing inisial LS (44) dan HSN (44) asal daerah Mataram, pada Kamis, 17 Juni 2021 sekitar pukul 17.10 Wita. Sebelumnya, jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Lobar Polda NTB menangkap terduga bandar besar yang merupakan seorang sopir taksi.

Salah satu di antara pelaku yang ditangkap saat transaksi narkoba di sebuah gang sempit di Desa Rumak Kecamatan Kediri itu juga berprofesi sebagai sopir taksi. Dari kedua pelaku polisi berhasil mengamankan barang haram jenis sabu dengan berat bruto 5,40 gram.

“Dua pelaku ini sindikat jaringan masing-masing insial LS bekerja sebagai sopir taksi dan HSN alias H profesi sebagai pedagang diamankan saat transaksi narkoba di Kediri,” jelas Kasatres Narkoba, Iptu Faisal Afrihadi bersama Kapolsek Kediri, Iptu Heri Santoso dalam keterangan persnya, Rabu, 23 Juni 2021.

Faisal Afrihadi menerangkan, pengungkapan kasus ini berdasarkan pengembangan kasus curat di Desa Rumak oleh Polsek Kediri. Pasalnya, saat penangkapan seorang pria yang mencuri salah satu konter di kawasan itu ditemukan alat isap sabu saat pengeledahan di kediamannya. Kemudian hal itu dikembangkan oleh Polsek Kediri.

“Berdasarkan itu tim Opsnal Polsek Kediri melakukan pengembangan sumber barang tersebut, kemudian ada indikasi bahwa ada supir taksi yang menyambi melakukan traksaksi obat-obatan jenis sabu,” terangnya.

Saat penangkapan yang disokong oleh Satnarkoba Polres Lobar, para pelaku berusaha menghilangkan barang bukti dengan membuang sabu. Namun berhasil ditemukan oleh anggota kepolisian. “Kedua orang yang bersangkutan kemudian diamankan ke Polsek Kediri kemudian dilimpahkan ke Satnarkoba Polres Lobar,” bebernya.

Faisal menegaskan, penangkapan sopir taksi kali ini tak ada kaitannya dengan penangkapan yang sebelumnya. Hanya saja modus yang digunakan sama dengan menjadi sopir taksi sambil menjual narkoba. Pihaknya pun masih mengembangkan kasus ini termasuk mencari tahu sudah berapa lama sopir itu menjalankan bisnisnya barang haramnya itu. “Masih kita kembangkan yang jelas lebih dari satu kali. Ini sindikat pengedar narkoba wilayah hukum Polres Lobar umumnya NTB,” jelasnya.

Dari pengakuan pelaku, pembelinya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga orang tua. Sopir itu pun baru akan memberikan barangnya sesuai pesanan. Hal ini juga untuk mengelabui kepolisian, sehingga dianggap hanya manjadi sopir taksi biasa. “Satu kali jual dari pokok barang yang didapatkan bisa kurang lebih Rp900 ribu per gram,” pungkasnya.

Sejauh ini, diduga barang itu diperoleh dari kawasan Cakranegara Mataram. Pelaku pun selain pengedar juga menjadi pengguna. Terbukti dari hasil tes urine kedua pelaku yang positif narkoba.

Sementara itu, Kapolsek Kediri, Iptu Heri Santoso menambahkan, pengungkapan ini berawal atas pengungkapan kasus pembobolan konter. Pihaknya terus mengembangkan adanya temuan alat isap sabu itu. Pihaknya memperoleh informasi terkait sumber barang itu, ditambah adanya informasi masyarakat terkait aktivitas transaksi yang kerap terjadi di kasawan Rumak Kediri. “Kalau dari penyelidikan kami, barang itu masuk dari luar,” pungkasnya.

Dari kedua pelaku, pihaknya mengamankan barang bukti berupa satu bungkus rokok warna hitam yang di dalamnya berisi satu klip plastik transparan diduga narkotika jenis sabu dengan berat Bruto 5,40 gram yang dibungkus menggunakan satu lembar tisu. Sejumlah ponsel, dan uang tunai sebesar Rp1.328.000. Kendaraan taksi bertuliskan identitas perusahaan taksi yang dikendarai pelaku juga ikut diamankan. (her)