Survei Organisasi PBB di NTB, Pandemi Covid-19 Berdampak Pemiskinan Jangka Panjang

Mataram (Suara NTB) – Salah satu organisasi Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB), United Nations Development Programme (UNDP) melakukan survei dampak bencana non alam pandemi Covid-19 di NTB, sejak Februari lalu. Survei dilakukan di Kota Mataram dan Lombok Timur.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, pandemi Covid-19 menyebabkan banyak warga yang mengurangi konsumsi, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas karena terjadinya penurunan pendapatan. Bahkan, dampak Covid-19 juga menyebabkan pemiskinan secara jangka panjang diikuti masalah-masalah kemiskinan lain.

‘’Seperti stunting, PDRB turun, indeks gini meningkat, pekerja anak, pekerjaan tidak layak dan partisipasi sekolah rendah,’’ kata Koordinator Tim Survei UNDP Indonesia, Rurid Rudianto dikonfirmasi usai acara diseminasi Kajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) Covid-19 di Mataram, Kamis, 17 Juni 2021.

Selain itu, dampak Covid-19 juga menyebabkan perburukan kualitas hidup seperti kesehatan, pendidikan, kebutuhan dasar, budaya dan informasi serta pengurangan risiko bencana. Warga memiliki potensi untuk pulih sebagai mekanisme adaptasi yang harus didukung pemerintah.

Secara jangka panjang terus menerus menyediakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk konsumsi juga tidak sustainable. Sehingga perlu dukungan yang sifatnya produktif.

Survei dilakukan kepada 400 responden dengan kriteria rumah tangga berpenghasilan di bawah Rp1,8 juta per bulan di Kota Mataram dan Lombok Timur. Dipaparkan, akibat Covid-19, 84 persen responden masih bekerja, sedangkan 16 persen responden tidak bekerja.

Mayoritas pekerja di sektor perdagangan, jasa dan pertanian. Serta 98 persen responden mengatakan terganggu pekerjaannya. Kemudian, hanya 16 persen responden memiliki pekerjaan sampingan untuk mengantisipasi krisis pandemi Covid-19.

Selain itu, gangguan daya serap pasar sebesar 58 persen dan gangguan modal karena terpakai oleh konsumsi sebesar 50 persen. Sebanyak 33 persen mengalami gangguan di distribusi produksi dan 19 persen responden mengalami gangguan aset produksi.

Anggota Tim Survei UNDP Indonesia, H. Chairul Mahsul, S.H., M.M., menambahkan banyak warga yang mengurangi konsumsinya dari sisi kualitas dan kuantitas. Dari konsumsi yang biasanya tiga kali sehari, menjadi dua kali sehari. “Karena terjadinya penurunan pendapatan,” katanya.

Mantan Kepala Bappeda NTB ini mengatakan survei yang dilakukan UNDP untuk menyiapkan langkah-langkah recovery pascabencana. “Kita petakan masalahnya dan langkah-langkah terhadap temuan-temuan itu,” jelasnya.

Ia mengatakan NTB menjadi salah satu lokasi survei UNDP karena daerah yang dihantam bencana bertubi-rubi. Pada 2018, NTB dihantam bencana gempa bumi, kemudian sekarang bencana non alam Covid-19.

“Maka tingkat kesulitan masyarakatnya tinggi. Makanya juga dilakukan di Sulawesi Tengah,” katanya.

Selain itu, pengkajian kebutuhan pascabencana ini juga dilakukan UNDP di provinsi lain. Seperti  Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, Papua, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. “Tujuannya mengetahui dampak ganda bencana khusus NTB dan Sulawesi Tengah,” tandas Widyaiswara Utama BPSDM NTB ini. (nas)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Turki, Dubes Lalu Iqbal: Tidak Ada Korban...

0
Mataram (Suara NTB) - Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Turki. Sejauh ini belum ada laporan WNI yang meninggal dunia akibat gempa ini.Duta Besar RI...

Latest Posts

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Turki, Dubes Lalu Iqbal: Tidak Ada Korban WNI

Mataram (Suara NTB) - Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda...

2022, Bank NTB Syariah Bukukan Laba Rp177 Miliar

KINERJA Bank NTB Syariah terus meningkat sejak konversi dari...

Koperasi BGL Berhasil Uji Coba Beras Porang

KOPERASI Porang Berkah Gumi Lombok (BGL) Kabupaten Lombok Utara,...