TNI Ajak Pemuka Agama Bersama Tangkal Radikalisme

0

Praya (Suara NTB) – Sejumlah pemuka agama, tokoh masyarakat serta pemuda perwakilan se-Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Selasa, 8 Juni 2021  dikumpulkan di Makodim 1620/Loteng guna membangun komitmen dan kesepahaman bersama   melawan dan menangkal masuk serta berkembangnya paham radikal dan separatisme di daerah ini. Adanya kesepahaman ini paham-paham yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa tersebut bisa diantisipasi sedini mungkin.

“Keberadaan paham radikal serta separatisme sangat berbahaya, karena bisa mengancam keberlangsung kehidupan berbangsa  dan bernegara. Untuk itu, harus dilawan secara bersama-sama,” tegas Dandim 1620/Loteng Letkol. Inf. I Putu Tangkas Wiratawan S.IP, di hadapan perwakilan pemuka agama, tokoh masyarakat serta tokoh pemuda yang hadir.

Ditegaskannya, radikalisme merupakan suatu paham yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan separatisme adalah gerakan untuk mendapatkan suatu kedaulatan dan memisahkan diri dari suatu wilayah atau negara.

Untuk bisa mencapai tujuannya para penyebaran paham radikal dan separatisme biasanya menanamkan rasa kebencian. Hal yang sangat bertentangan dengan kaidah kehidupan dan ajaran agama yang ada di negara ini. Karena tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kebencian kepada umatnya.

“Jadi semua agama baik itu Islam, Hindu, Kristen maupun agama lainnya tidak ada yang mengajarkan kebencian. Agama hadir untuk mempersatukan manusia bukan untuk memecah belah terlebih-lebih mengobarkan kebencian,” ujarnya.

Untuk menangkal masuk dan berkembangnya paham radikal dan separatisme dibutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat. Terutama para pemuka agama dan tokoh masyarakatnya. Dengan memberikan pemahaman positif dan rasa toleransi kepada masyarakat. Terutama di kalangan  generasi mudanya, selaku generasi penerus bangsa.

Pihaknya juga berharap komunikasi yang baik antara pemuka agama dan tokoh masyarakat dengan aparat keamanan, termasuk TNI bisa terus terjaga, sehingga jalinan komunikasi dan koordinasi bisa semakin kuat. Para pemuka agama dan tokoh masyarakat hendaknya juga bisa menyampaikan informasi yang seluas-luasnya, terutama yang menyangkut potensi-potensi kerawanan yang ada di wilayah ini demi tetap terpeliharanya kondusivitas di tengah masyarakat. (kir)