Industrialisasi Jadi Sinyal Positif Perbaikan Ekonomi NTB

0
Muhamad Bai’ul Hak. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Perekonomian Indonesia masih mengalami kontraksi di Triwulan 1 2021, yaitu sebesar 0.74 y-on-y. Hal ini tentu tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19, keterbatasan ruang gerak ekonomi dan adanya pembatasan mobilitas orang memaksa beberapa sektor pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) harus tiarap. Diantaranya yaitu sektor pariwisata dan transportasi. Sama seperti halnya di Provinsi NTB, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB Triwulan I 2021 mengalami kontraksi sebesar 1.13 (y-on-y).

Pandemi Covid-19 masih berdampak negatif bagi perekonomian NTB. Adanya penurunan jumlah wisatawan secara signifikan, menyebabkan jumlah hunian kamar menjadi turun drastis. Hal ini berdampak negatif pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yaitu tumbuh minus 22,87. Lebih jauh, adanya pembatasan mobilitas orang menyebabkan sektor transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi sebesar 25,14.

Kedua sektor ini, kata  Direktur Arus Data Institute (ADI), Muhamad Bai’ul Hak, SE, M.AppEc berkaitan erat dengan sektor andalan beberapa provinsi, yaitu sektor pariwisata. Provinsi Bali misalnya, kondisi ekonominya harus kontraksi sampai 9.85. Hal disebabkan oleh struktur PDRB Bali yang sangat mengandalkan sektor pariwisata.

“Provinsi NTB, yang memiliki julukan The New Bali. Tidak ingin terlalu terlena dengan sektor yang paling terdampak pandemi ini. Pemerintah terus berupaya meningkatkan share sektor lainnya terhadap PDRB. Terbukti, sektor yang selama ini memiliki nilai kecil terhadap PDRB terus menunjukkan tren positif, sektor industri misalnya,” ujarnya. Melalui program industrialisasi, pertumbuhan sektor industri sebesar 2.62 menjadi sinyal positif bahwa program industrialisasi secara perlahan tapi pasti sudah berada pada trek yang tepat.

Menurut dia, dampak Covid-19 terhadap perekonomian NTB masih tergolong manageable jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. “Saya meyakini, laju pertumbuhan ekonomi NTB akan kembali ke tren positif di Triwulan 2 jika memenuhi beberapa hal sebagai berikut,” imbuhnya. Pembatasan mudik ke luar daerah membuat sejumlah karyawan instansi pusat yang ada di daerah seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, PLN, dan instansi lainnya akan memanfaatkan waktu libur lebaran dengan menginap di hotel.

Dia memprediksi, hunian hotel akan meningkat di Triwulan Kedua. Tentu ini akan membuat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum akan kembali ke tren positif, atau setidaknya mengalami kontraksi ringan. Program pembagian THR yang dilakukan di Triwulan Kedua ini akan berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat. Tentu hal ini juga akan meningkatkan sisi supply dari produsen karena permintaan akan barang dan jasa mengalami peningkatan.

Tren positif sektor pertanian juga harus mendapatkan intervensi tepat dari pemerintah. Pada Triwulan kedua ini sebagian besar tanaman palawija, termasuk padi akan memasuki masa panen. Perlu kebijakan afirmatif dari pemerintah untuk mengantisipasi harga gabah yang kemungkinan turun drastis. Pemerintah perlu menyerap hasil panen petani untuk menjaga kestabilan harga gabah.

Diperlukan kebijakan progresif untuk sektor-sektor yang terus menunjukkan tren positif, salah satunya adalah sektor industri. Kontribusi sektor industri tumbuh positif (2.62) di Triwulan 1 2021. Ke depan, program industrialisasi perlu diarahkan ke pengembangan produk industri berorientasi ekspor dan/atau produk substitusi impor.

“Terakhir, saya mengajak kita semua untuk tetap mencintai, membeli dan menggunakan produk lokal NTB. Mari kita isi kamar mandi kita dengan sabun buatan NTB, melengkapi dapur kita dengan bumbu lokal NTB, menghias rumah dengan perabot buatan NTB dan sejenisnya. Mungkin harganya lebih tinggi sedikit, tapi dengan kita menggunakan produk lokal, berarti kita membantu IKM/UMKM kita tetap eksis meski diterpa pandemi,” ajaknya. (bul)