4.000 Balita di Mataram Alami Stunting

Mataram (Suara NTB) – Kasus stunting di Kota Mataram sampai dengan 2021 masih mencapai 8,18 persen dari jumlah total balita. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Mataram menargetkan jumlah kasus tersebut dapat dikurangi minimal 2 persen per tahun hingga 2025 mendatang.

Kepala BPPKB Kota Mataram, Sudirman menerangkan dari pendataan yang dilakukan jumlah balita di Kota Mataram tercatat mencapai 38.657 orang. “Dari jumlah tersebut sekitar 8,18 persen atau 4.721 balita yang menjadi sasaran (penanganan) stunting se-Kota Mataram,” ujarnya, Selasa, 30 Maret 2021.

Diterangkan, penanganan masalah stunting yang sebelumnya berada di Dinas Kesehatan saat ini memang telah dialihkan ke DPPKB Kota Mataram. Untuk itu dalam waktu dekat akan dilakukan juga pendataan keluarga guna melihat berbagai masalah yang muncul, termasuk untuk kasus stunting.

Pendataan tersebut akan dimulai pada 1 April hingga 31 Mei mendatang. Melibatkan 664 orang kader pelayanan terpadu di seluruh lingkungan di Kota Mataram dengan sasaran mencapai 133 ribu Kepala Keluarga (KK) yang diambil dari data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil)

“Pendataan ini benar-benar akan kita jadikan sebagai dasar pemerintah mengambil keputusan dalam membuat kebijakan, termasuk untuk masalah stunting itu,” jelas Sudirman. Salah satu fokus kebijakan tersebut nantinya diharapkan dapat membantu upaya penurunan angka stunting hingga 2025 mendatang mendekati 0 persen.

Di sisi lain, penanganan stunting diakui Sudirman masih memiliki beberapa kendala. Antara lain tingginya kasus perkawinan di bawah usia dewasa yang terjadi di Kota Mataram. “Persoalannya dimulai dari anak-anak remaja kita yang menikah di bawah umur. Karena mereka secara fisik, mental dan kemampuan material belum matang. Sehingga bayi yang dilahirkan sulit dirawat dengan baik,” ujarnya.

Dengan merujuk pada fenomena tersebut, pendataan keluarga dinilai menjadi semakin penting untuk dilakukan. Khususnya untuk mencegah penambahan angka stunting yang lebih tinggi, melampaui target penurunan yang telah diupayakan pemerintah saat ini.

“Karena stunting itu sendiri baru bisa kita deteksi setelah umur anak di atas satu tahun, baik dengan penimbangan (berat badan), pengukuran dan lain-lain. Di sinilah pentingnya pendataan keluarga, untuk mengidentifiksi berapa jumlah keluarga kita serta (potensi) masalah-masalah kesehatan yang mungkin muncul nantinya,” tandas Sudirman. (bay)

perbakin



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Bangun Digital Payment Ekosistem UMKM, BRI Jalin Kerjasama Layanan Pada Platform...

0
Yogyakarta (suarantb.com) – Dalam rangka memperkuat dan membangun ekosistem UMKM Indonesia, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menginisiasi kerja sama Layanan Digital...

Latest Posts

Bangun Digital Payment Ekosistem UMKM, BRI Jalin Kerjasama Layanan Pada Platform AYO SRC

Yogyakarta (suarantb.com) – Dalam rangka memperkuat dan membangun ekosistem...

80 Mahasiswa Pertukaran Dalam Negeri Belajar di Unisma

Malang (suarantb.com) Universitas Islam Malang menyambut sebanyak 80 mahasiswa...

Bulog Gelontorkan 650 Ribu Ton Beras untuk Operasi Pasar

Jakarta (suarantb.com)–Guna menjalankan fungsi menjaga stabilitas harga pangan khususnya...

Investasi Semakin Mudah, BRI Hadirkan Fitur Pembelian SBN di BRImo

Jakarta (suarantb.com)– Aplikasi Super Apps Digital Banking BRImo milik...

Bupati Dompu Minta Pelaksanaan MTQ Dievaluasi

Dompu (Suara NTB) - Bupati Dompu, H. Kader Jaelani...