20 Ribu Anak Loteng Alami Stunting

Praya (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) masuk ke dalam enam daerah dengan kasus anak stunting tertinggi di NTB, bahkan secara nasional dengan persentase sekitar 27,79 persen. Itu artinya ada sekitar 20 ribu lebih anak usia hingga 5 tahun di daerah ini yang mengalami stunting atau gangguan tumbuh kembang. Yang bisa berdampak pada kualitas anak di masa yang akan datang.

Sebagai upaya menekan kasus anak stunting, Selasa, 30 Maret 2021, Pemkab Loteng membuat komitmen bersama dengan berbagai elemen untuk melawan kasus anak stunting. Mulai dari unsur pemerintah di kabupaten, camat hingga desa.

“Melawan stunting penting ada rencana kontigensi yang harus dibuat. Melibatkan semua pihak, dengan pembagian tugas yang jelas. Siapa melakukan apa, dengan cara apa dan bagaimana,” ujar Wabup Loteng, Dr. H.M. Nursiah, S.Sos.M.Si., saat rembuk stunting di kantor Bupati Loteng.

Nursiah mengatakan, upaya menekan kasus stunting di Loteng bisa dikatakan cukup baik. Tapi masih perlua untuk ditingkatkan. Di mana pada tahun 2013 lalu, angka stunting Loteng berada di kisaran 47,8 persen. Angka tersebut turun tajam menjadi 31,05 persen di tahun 2018 dan 29 persen di tahun 2019 lalu. Di tahun 2020 lalu kasus stunting kembali turun menjadi 27,79 persen.

“Penurunan angka stunting ini berkat keterlibatan kita semua. Sinergitas inilah yang ke depan harus bisa terus dipertahankan bahkan ditingkatkan,” tandasnya, seraya menambahkan, dengan manajemen penanganan yang lebih terukur lagi.

Di tempat yang sama,  Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng, Kusriadi, mengatakan stunting tidak hanya masalah terganggunya pertumbuhan fisik anak. Tetapi juga soal terganggunya intelegensi serta daya tubuh anak, sehingga penanganan anak stunting dilakukan sejak dini. Sejak masa kehamilan.

“Seribu hari pertama kehidupan anak terhitung sejak masa kehamilan merupakan masa emas. Di sinilah perlu penanganan serius. Sehingga potensi anak terkena stunting bisa diminimalisir,” sebutnya.

Dalam hal ini semua elemen punya peran. Petugas kesehatan sebagai fungsi pelayanan dan perangkat pemerintahan dalam hal penyiapan sarana dan prasarana pendukung. Tidak kalah penting, peran orang tua dalam menjaga anak selama masa tumbuh emasnya. (kir)

perbakin



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Bangun Digital Payment Ekosistem UMKM, BRI Jalin Kerjasama Layanan Pada Platform...

0
Yogyakarta (suarantb.com) – Dalam rangka memperkuat dan membangun ekosistem UMKM Indonesia, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menginisiasi kerja sama Layanan Digital...

Latest Posts

Bangun Digital Payment Ekosistem UMKM, BRI Jalin Kerjasama Layanan Pada Platform AYO SRC

Yogyakarta (suarantb.com) – Dalam rangka memperkuat dan membangun ekosistem...

80 Mahasiswa Pertukaran Dalam Negeri Belajar di Unisma

Malang (suarantb.com) Universitas Islam Malang menyambut sebanyak 80 mahasiswa...

Bulog Gelontorkan 650 Ribu Ton Beras untuk Operasi Pasar

Jakarta (suarantb.com)–Guna menjalankan fungsi menjaga stabilitas harga pangan khususnya...

Investasi Semakin Mudah, BRI Hadirkan Fitur Pembelian SBN di BRImo

Jakarta (suarantb.com)– Aplikasi Super Apps Digital Banking BRImo milik...

Bupati Dompu Minta Pelaksanaan MTQ Dievaluasi

Dompu (Suara NTB) - Bupati Dompu, H. Kader Jaelani...