Entram, Kejutan Gubernur NTB untuk Menkes RI

0

Keberhasilan Provinsi NTB melahirkan Entram, produk alat rapid test antigen yang berkualitas, menjadi kejutan yang menyenangkan bagi Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin. Hal itu terungkap setelah Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah bertemu Menkes di Jakarta, Selasa, 9 Maret 2021.

‘’Dia kaget, karena provinsi seperti NTB ternyanta bisa menghasilkan produk seperti itu,’’ ujar Gubernur kepada Suara NTB melalui panggilan telepon, usai bertemu dengan Menkes.

Menurutnya, Menkes juga semakin terkejut setelah mengetahui bahwa NTB ternyata telah memiliki rekam jejak panjang dalam menghasilkan produk-produk medis yang berkualitas. ‘’Jadi ini akumulasi kemampuan teknologi yang sudah lama,’’ ujar Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini.

Bang Zul mengutarakan, pertemuan dengan Menkes diharapkan dapat mendorong agar perizinan untuk produksi Entram dalam jumlah yang lebih besar, akan menjadi lebih mudah. Dengan produksi yang lebih banyak, Provonsi NTB akan diuntungkan karena bisa memiliki alat rapid test antigen yang murah, namun berkualitas sangat baik.

‘’Lebih banyak alat yang kita pakai lebih banyak masyarakat yang bisa dites. Dengan demikian ini akan mengakselerasi seluruh upaya kita dalam menuntaskan pandemi Covid-19 di NTB,’’ pungkas Bang Zul.

Entram merupakan perangkat rapid test yang lahir melalui kolaborasi antara Laboratoriun Hepatika NTB dengan Universitas Mataram (Unram). Rapid test antigen Entram ini telah diluncurkan Gubernur NTB, Kantor Gubernur, Kamis, 25 Februari 2021 lalu.

Gubernur menilai, Entram adalah bukti nyata bahwa NTB memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk-produk dalam bidang kesehatan yang bukan saja terkenal di tingkat regional dan nasional. Tetapi juga internasional. Yaitu, produk-produk industrialisasi di bidang kesehatan yang dilakukan oleh Laboratorium Hepatika NTB.

‘’Di saat pandemi Covid-19, banyak alat-alat canggih yang diimpor dari luar negeri. Tapi kita sempat men-challenge Prof. Mulyanto (Direktur PT. Hepatika NTB). Karena kita tahu kompetensinya bagus,’’ puji Gubernur.

Gubernur menceritakan, sempat memberikan tantangan kepada Hepatika Mataram, ketika dulu mampu membuat alat rapid test antibodi untuk mendeteksi Covid-19. Tantangan tersebut kemudian mampu direalisasikan oleh Hepatika dengan memproduksi alat rapid test antigen yang dinamakan Entram.

‘’Ternyata Hepatika melakukan inovasi, mampu menghasilkan alat rapid test antigen yang akan memudahkan tracing,’’ kata Gubernur.

Bang Zul mengatakan, pelacakan kontak terhadap orang yang pernah kontak erat dengan penderita Covid-19 terkendala alat untuk melakukan rapid test antigen. Dengan adanya produk alat rapid test antigen buatan NTB yang harganya lebih murah dan kualitasnya tidak kalah dengan produk impor, diharapkan pelacakan akan semakin cepat. Sehingga pengendalian Covid-19 di NTB menjadi semakin baik.

‘’Ini menunjukkan bahwa industrialisasi itu bukan hanya milik daerah-daerah maju. Kita pun bisa asal ada kemauan. Dan ini dibuktikan oleh Hepatika saat ini. Bahwa apa yang menurut orang itu milik kota-kota besar yang sudah maju. Ternyata bisa kita produksi,’’ ujar Bang Zul.

Ia menambahkan, alat rapid test antigen ini segera diproduksi massal. Pemprov NTB sendiri akan memesan sebanyak 50.000 alat rapid test antigen Entram tersebut.

Rektor Unram, Prof. Dr. H. Lalu Husni, M. Hum, mengatakan, riset dan inovasi merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang mendorong perguruan tinggi di masa pandemi Covid-19, agar melakukan arah riset dan inovasinya.

Riset dan inovasi perguruan tinggi didorong untuk bagaimana mengatasi penyebaran Covid-19. Khususnya alat-alat dan produk kesehatan. ‘’Supaya kita bisa mandiri, tidak lagi bergantung dari barang impor,’’ katanya.

Sementara Direktur PT. Hepatika NTB, Prof. Dr. dr. Mulyanto menjelaskan, alasan dibuatnya alat rapid test antigen tersebut. Hal itu berawal dari tantangan Gubernur agar Hepatika membuat inovasi, setelah sukses membuat alat rapid test antibodi pada 2020 lalu.

‘’Sebelumnya kami sudah membuat alat rapid test Covid-19 antibodi bersama UGM dan Universitas Airlangga. Sekarang kami membuat produk rapid test antigen Covid-19 bekerjasama dengan Universitas Mataram,” terangnya.

Ia menjelaskan, Hepatika yang membuat prototipe produknya. Setalah itu dievaluasi oleh Unram. “Dibandingkan dengan produk rapid antigen yang sudah beredar dari luar. Hasilnya, sangat memuaskan. Jadi, sensivitas dan spesivitasnya lebih baik dari salah satu alat test cepat yang sudah beredar di pasaran,” kata Mulyanto.

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan bersama Unram, produk rapid test antigen Entram kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan produk komersial yang sudah ada di RS Unram. Hal tersebut dikatakan dr. Rizki dari Universitas Mataram.

Ketika prototipe produk rapid test antigen ini diserahkan ke Unram untuk validasi. Peneliti dari Unram melakukan pemeriksaan 86 sampel.

“Sampel yang datang, baik positif maupun negatif, secara bersamaan kita lakukan pemeriksaan dari sampel tersebut. Hasil 86 sampel tersebut, hasil positif PCR ada 34 sampel, kemudian negatif 52 sampel,” tuturnya.

Sementara ketika dicek menggunakan prototipe alat rapid test antigen dari Hepatika, yang dinamakan Entram. 33 sampel menunjukkan hasil positif dan 53 sampel menunjukkan hasil negatif. Pihaknya memperoleh sensitivitas 91,2 persen dan spesivitas 96,2 persen.

“Kami juga secara bersamaan membandingkan dengan rapid antigen komersial, ada dua merk yang digunakan. Hasil yang positif di komersial juga positif pada produk yang dikembangkan Hepatika. Kemudian spesivitasnya 96,7 persen. Dari hasil uji validasi ini, kualitas produk yang dihasilkan, tidak kalah dengan produk impor yang beredar,” ujar dr. Rizki.

Asisten III Setda NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A., mengatakan pengembangan alat rapid test antigen tersebut sejalan dengan program Pemerintah Pusat yang sedang menggencarkan 3T (tracing, testing dan treatment).

Bahkan sekarang, kata Eka, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengelurkan peraturan bahwa rapid antigen bisa dijadikan untuk diagnostik Covid-19. Artinya, jika  sudah positif berdasarkan pemeriksaan rapid test antigen, maka langsung dinyatakan positif Covid-19.

Memang untuk daerah perkotaan masih diminta untuk dikomparasikan dengan swab PCR. Tetapi untuk daerah terpencil, jika  positif hasil rapid test antigen maka dinyatakan positif Covid-19.

“Artinya, semakin cepat kita mendeteksi, semakin cepat kita terapi. Maka risiko kematian pada pasien Covid-19 di NTB akan semakin kecil. Kita tak perlu menunggu lagi beli dari tempat lain, kita punya produk sendiri. Harganya juga lebih murah dibandingkan produk yang lain,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri, M.M., MARS., mengatakan, alat rapid test antigen buatan NTB akan membantu untuk mempercepat pengendalian Covid-19. Karena di NTB angka tracing kontak sekitar  7 – 8 orang, sementara  target Pemda minimal 20 orang. Sementara, standar WHO minimal 30 orang yang harus ditracing dalam setiap satu kasus Covid-19.

“Ini kesempatan kita, dengan adanya produk alat rapid antigen yang dilaunching ini. Harapan kita bisa diproduksi 60.000 alat dalam sebulan. Sehingga kita bisa menggunakan itu untuk mengendalikan Covid-19 di NTB. Keunggulannya tak kalah dengan produk impor. Dan juga validitasnya tinggi,” katanya.

Hasil pemeriksaan rapid test antigen menggunakan produk buatan NTB ini bisa diketahui dalam waktu 15 menit. Kemudian dibandingkan produk rapid test antigen yang lain jauh lebih murah di bawah Rp100 ribu. (aan)