Ribuan Sampel Terkumpul, Satgas Covid-19 Mataram Lanjutkan Penapisan Massal

0

Mataram (Suara NTB) – Satgas Covid-19 Kota Mataram berhasil mengumpulkan 2.700 lebih sampel swab selama sepekan terakhir. Sampel tersebut berasal dari penapisan atau penyaringan massal yang dilakukan di beberapa titik di Kota Mataram sejak Senin, 8 Februari 2021.

Kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, dr. Lalu Herman Mahaputra, menerangkan dari jumlah tersebut sebanyak 23 sampel terkonfirmasi positif. “Jadi ada yang positif (Covid-19), tapi mereka tanpa gejala,” ujarnya saat dihubungi, Minggu, 14 Februari 2021.

Diterangkan, 23 orang dengan sampel positif tersebut saat ini tengah menjalani perawatan dengan isolasi terpusat di Hotel Nutana Mataram. Dimana hotel tersebut telah ditetapkan sebagai rumah sakit darurat Covid-19 melalui surat keputusan (SK) Walikota Mataram.

Menurut dr. Jack, sapaan akrabnya, dengan progres dari penapisan massal yang dilakukan Pemkot Mataram secara umum telah melampaui target. Namun penapisan akan terus dilakukan sampai mendapatkan 3.000 sampel swab yang akan diambil secara acak.

Penapisan massal sendiri disebutnya penting untuk melihat peta potensi penularan virus Covid-19 di Kota Mataram. “Kita sekarang ini zona oranye. Kemarin sempat merah, tapi dengan screening (penapisan) ini kita kembali ke oranye dan menuju ke (zona) kuning,” jelasnya.

Di sisi lain, untuk mencapai zona hijau diakui dr. Jack cukup sulit. Terlebih jumlah kasus harus benar-benar minim, bahkan mencapai nol jika Kota Mataram ingin masuk dalam zona hijau pandemi.

Penapisan massal yang dilakukan juga diakui belum menunjukkan hasil yang diinginkan. Terutama dari sedikitnya hasil tes dengan konfirmasi positif yang ditemukan.

“Dengan (pengambilan sampel) swab yang kita lakukan belum menunjukkan peningkatan (kasus). Mudah-mudahan dengan peningkatan yang kemarin sekarang kasus kita melandai,” ujar dr. Jack.

Peningkatan kasus yang dimaksud adalah puncak konfirmsi kasus terbanyak yang tercatat pada minggu ketiga Januari lalu. Dimana Satgas Covid-19 Kota Mataram mencatat ada 128 kasus positif.

Penapisan massal sendiri diharapkan dapat mengantarkan Kota Mataram menemukan puncak kasus penularan Covid-19 yang masih terjadi sampai saat ini. Dengan begitu, upaya penanganan dapat dilakukan lebih menyeluruh.

“Jadi strategi kita sekarang selain maksimal pelacakan dan pengunjian sampel, juga memaksimalkan isolasi mandiri supaya penularan ini benar-benar bisa kita tekan,” tandas dr. Jack.

Satgas Covid-19 Kota Mataram mencatat sampai dengan Minggu, 14 Februari 2021 jumlah penularan virus di Kota Mataram mencapai 2.132 kasus. Rinciannya, 1.807 orang pasien dinyatakan sembuh, 112 orang meninggal, dan 213 orang masih menjalani perawatan.

Sejak 8 Februari 2021 penapisan massal telah dilakukan di seluruh kecamatan yang ada. Di Kecamatan Cakranegara lokasi yang dipilih antara lain Mataram Mall, Transmart, Bank BTN Cakranegara, Bank Permata, Bank Primanadi, Bank BCA Cakranegara, Bank Mandiri, Ruby Supermarket, Fashion One, Kantor Netral, Lotte Grosir, dan Niaga Cakranegara.

Untuk di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang lokasi yang dipilih antara lain Niaga Sriwijaya, Pasar Dasan Agung, Bank NTB Pejanggik, Bank BNI Langko, Pegadaian Airlangga, Bank BRI Pejanggik, Kantor Pos Sriwijaya, Kantor BKD Mataram, Kantor DPMPTSP Kota Mataram, dan Kantor Imigrasi Mataram.

Untuk di Kecamatan Ampenan penapisan massal dilakukan di Bank BCA, Bank Danamon, Kantor PLN, Niaga Pelembak, BRI Sukaraja, dan Pasar Perumnas. Kemudian khusus di Kelurahan Pagutan dan Kelurahan Pagesangan kegiatan serupa dilakukan di Pasar Pagutan, Bank BRI Pagesangan, Bank Mandiri Sriwijaya, Pasar Pagesangan, BRI Sriwijaya, dan Kantor Dukcapil Kota.

Terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Mataram, I Nyoman Swandiasa, menerangkan dari hasil penapisan massal tersebut pemerintah berharap mendapatkan gambaran yang lebih jelas terkait penyebaran virus.

“Kalau sudah dites kemudian hasilnya negatif, justru masyarakat kan bisa tenang. Kalaupun positif kita juga sudah siap menangani,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah dalam hal ini ditekankannya tidak dapat memaksa masyarakat untuk mengikuti proses penapisan massal. Artinya, hal tersebut harus dilakukan secara sukarela.

“Regulasi kita tidak menjangkau untuk memberikan sanksi bagi yang tidak bersedia di-swab. Karena itu, ini semua butuh kesadaran,” tandas Kepala Dinas Kominikasi dan Informatika Kota Mataram tersebut. (bay)