Harga Kedelai Sulit Diintervensi

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H. Mutawalli, menyebut tingginya harga kedelai impor di Mataram sulit diintervensi. Selain karenanya terbatasnya solusi, ketergantungan masyarakat terhadap kedelai impor dinilai menjadi kendala utama.

“Ini susahnya kalau terlalu mengandalkan kedelai impor. KIta jadi tergantung harga impor,” ujar Mutawalli saat dikonfirmasi, Rabu, 10 Februari 2021.  Katanya, saat ini stok kedelai impor di Kota Mataram masih mencapai ratusan ton. Sehingga kelangkaan bukan menjadi alasan kenaikan harga.

“Sebenarnya kalau stok kita masih banyak di gudang. Cuma karena dari sananya harga sudah tinggi, jadi tetap dijualnya juga tinggi,” jelasnya. Menurut Mutawalli kedelai impor memang lebih diminati oleh masyarakat, khususnya produsen tahu-tempe, karena harganya yang murah. Di manna dibanding kedelai lokal, kedelai impor memiliki selisih harga mencapai Rp2 ribu.

“Kalau kedelai lokal itu Rp7-8 ribu misalnya, kedelai impor bisa Rp5-6 ribu,” ujarnya. Hal itu sekaligus menutup kemungkinan penyediaan kedelai lokal untuk menutupi tingginya harga kedelai impor. “Pilihannya sekarang stok lokal itu harganya mahal, stok impor juga ikut dinaikkan. Jadi tidak ada pilihan masyarakat kita,” ungkapnya.

Satu-satunya intervensi yang dapat dilakukan menurut Mutawalli adalah pengaturan harga eceran tertinggi (HET) dari pemerintah pusat. Di mana saat ini  HET untuk kedelai adalah Rp8.5 ribu. “Jadi pedagang dan distributor bisa ikuti HET itu. Kita tinggal cari masalahnya di mana sekarang, karena stok di gudang sebenarnya masih banyak sekali untuk yang impor,” tandasnya.

Terpisah, salah seorang distributor skal kecil di Pasar Induk Mandalika, Gus Putra, menerangkan harga kedelai saat ini berkisar Rp980 ribu per kwintal atau 100 kilogram (Kg). Jika dijual eceran, harga kedelai tersebut mencapai Rp10-11 ribu per Kg. Dari harga tersebut, pihaknya hanya mengambil untung Rp300-400 per Kg. Jika kondisi normal, harga kedelai diakui Putra dapat mencapai Rp7-8 ribu per Kg.

Menurutnya, perubahan harga tersebut tergantung dari fluktuasi dolar. “Kalau di sana kurang, pasti naik. Begitu juga  dolar naik, pasti juga naik kita,” jelasnya.

Tingginya harga jual kedelai diakuinya berpengaruh terhadap berkurangnya pembeli. Dimana kondisi tersebut justru memaksanya menaikkan harga  dan mengurangi pasokan yang diambil. “Paling cuma 500 Kg stok untuk dijual ecer. Lain kalau yang dijual persak itu kita ambil 1-2 ton,” ujarnya.

Distributor kedelai lainnya,  H. M. Saufi,  mengaku tingginya harga kedelai membuatnya memutuskan tidak memasok kedelai untuk sementara waktu. Pasalnya, harga yang terlalu tinggi diakuinya cukup sulit disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Kalau kemarin-kemarin harganya Rp9.125 per Kg, sekarang  Rp. 9.850 per Kg. Kita jual Rp10.5 ribu, tapi pembeli maunya Rp10 ribu saja,” jelasnya. Dengan situasi tersebut, dirinya memilih menjual komoditi lain seperti kacang atau kedelai hitam. (bay)





Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Tanpa Nasdem, PKS Tetap Lanjutkan Duet Zul-Rohmi Jilid II

0
Mataram (suarantb.com)-PKS NTB sama sekali tidak terpengaruh dengan keputusan politik Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr.Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang keluar dari Partai Nasdem. PKS...

Latest Posts

Tanpa Nasdem, PKS Tetap Lanjutkan Duet Zul-Rohmi Jilid II

Mataram (suarantb.com)-PKS NTB sama sekali tidak terpengaruh dengan keputusan...

Presiden Jokowi Sebut Mandalika Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Luar Jawa

Mataram (Suara NTB) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam...

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global, NTB Perkuat Bela Beli Produk Lokal

Mataram (Suara NTB) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan,...