Di Tengah Pandemi, Kontribusi Sektor Industri di NTB Meningkat 1,33 Persen

0
Ilustrasi produk industri olahan di NTB.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Meskipun di tengah pandemi Covid-19, sektor industri olahan tetap memberikan kontribusi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi NTB yang tercermin dalam pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulan III 2020.

Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) NTB, Hj. Nuryanti, S.E., M.E., menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, kontribusi sektor industri di NTB pada triwulan II sebesar 3,72 persen. Kemudian, pada triwulan III kontribusi sektor industri terhadap PDRB meningkat menjadi 5,05 persen.

“Artinya ada peningkatan share industri sebesar 1,33 persen. Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan di NTB menunjukkan angka yang positif jika dibandingkan pertumbuhan sektor industri antara triwulan III dan triwulan II,” kata Nuryanti dikonfirmasi, Sabtu, 30 Januari 2021.

Dijelaskan, berdasarkan perhitungan BPS NTB, dalam PDRB terdapat 17 kategori lapangan usaha dan sebagian besar kategori dirinci lagi menjadi subkategori. Salah satu penyumbang PDRB NTB adalah sektor industri pengolahan. Sektor industri pengolahan merupakan salah satu sektor yang juga banyak menyerap tenaga kerja.

Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dicerminkan dari pertumbuhan PDRB. PDRB merupakan total nilai barang dan jasa yang diproduksi di wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu (satu tahun). Kondisi geografis dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan perekonomian suatu wilayah.

PDRB di samping merupakan salah satu indikator pembangunan daerah, juga sekaligus berfungsi sebagai tolak ukur dalam melihat kemakmuran suatu daerah. Dalam PDRB terdapat sektor- sektor ekonomi yang menyumbang besar kecilnya angka PDRB. Masing-masing sektor ekonomi tersebut memberikan sumbangan yang berlainan besarnya.

Bila dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi NTB triwulan III-2020 secara q-to-q, kata Nuryanti, sumber pertumbuhan utama adalah komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 3,00 persen. Diikuti oleh komponen ekspor luar negeri sebesar 2,04 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) sebesar 0,72 persen, dan komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 0,06 persen. Sedangkan komponen sebagai sumber kontraksi utama pertumbuhan adalah komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) sebesar 0,95 persen.

Nuryanti menjelaskan, secara nasional, pertumbuhan sektor industri triwulan III-2020 (y on y) mengalami penurunan sebesar -4,31 persen. Di Provinsi Kalimantan Tengah, pertumbuhan sektor industri triwulan III (y on y) juga mengalami penurunan sebesar -10,29 persen.

Sedangkan laju pertumbuhan sektor industri di Provinsi tetangga yaitu NTT sebesar -7,17 persen. Di NTB sendiri yang menjadikan industrialisasi sebagai program prioritas juga mengalami penurunan tetapi cukup lebih baik yaitu sebesar -5,99 persen.

Ia menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan sektor industri mengalami penurunan secara nasional, salah satunya adalah dampak dari Pandemi Covid-19. Penyebaran masif virus penyebab penyakit Covid-19 ini membuat negara-negara yang memiliki sistem perawatan kesehatan publik terbaik di dunia pun tak berdaya dibuatnya.

Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi banyak negara terkontraksi pada tahun 2020. Bahkan, beberapa negara sudah jatuh ke jurang resesi karena setidaknya dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonominya minus. “Tetapi, kita bersyukur laju pertumbuhan PDRB dengan biji logam tidak terlalu besar yaitu sebesar -1,11 persen,” sebutnya. (nas)